Atasi Kekeringan, Bupati: Masyarakat Tidak Boleh Berjuang Sendirian
Mamuju Tengah, makassarpena.id – Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah menggelar Operasi Satgas Siaga Darurat Bencana Kekeringan sebagai langkah cepat menghadapi dampak musim kering yang mulai dirasakan masyarakat.
Kegiatan tersebut berlangsung di halaman Kantor Bupati Mamuju Tengah, Senin, 10 Agustus 2026, dan dihadiri Bupati Mamuju Tengah Dr. H. Arsal Aras, SE., M.Si., Wakil Bupati Mamuju Tengah, Sekretaris Daerah Mamuju Tengah, Kapolres Mamuju Tengah, serta jajaran pejabat di lingkup Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah.
Dalam sambutannya, Bupati Mamuju Tengah Dr. H. Arsal Aras mengatakan, fenomena El Niño yang melanda wilayah tersebut bukan lagi sekadar prediksi, melainkan telah menjadi ancaman nyata yang mulai dirasakan masyarakat.
“Fenomena El Niño yang melanda wilayah kita bukan lagi sekadar prediksi, melainkan sebuah ancaman nyata yang sudah mulai kita rasakan dampaknya,” ujar Bupati.
Menurutnya, penurunan curah hujan secara drastis telah menimbulkan berbagai persoalan, mulai dari krisis air bersih di 29 desa, kebakaran rumah tinggal, hingga lima kejadian kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).
Kondisi tersebut juga mengancam mata pencaharian masyarakat, khususnya para petani, dengan meningkatnya risiko gagal panen. Di wilayah Kuo, Tobadak, dan Karossa, kekeringan turut meningkatkan ancaman kerusakan tanaman sawit akibat serangan hama ulat api.
Selain itu, kondisi cuaca panas, minimnya asupan air, serta meningkatnya debu akibat kekeringan juga mulai meningkatkan ancaman gangguan kesehatan, termasuk penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Sebagai langkah hukum dan taktis untuk mempercepat penanganan, Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah telah menetapkan status Siaga Darurat Kekeringan melalui Keputusan Bupati Mamuju Tengah Nomor 652 Tahun 2026 tanggal 4 Agustus 2026.
“Payung hukum ini harus menjadi pemacu bagi kita semua untuk bergerak lebih cepat, responsif, dan tepat sasaran,” tegas Arsal Aras.
Bupati menekankan bahwa pemerintah tidak boleh membiarkan masyarakat menghadapi dampak kekeringan seorang diri.
“Kita tidak boleh membiarkan masyarakat kita berjuang sendirian menghadapi krisis air, ancaman penyakit ISPA, dan ancaman kelaparan akibat gagal panen,” lanjutnya.
Dalam kesempatan tersebut, Bupati juga menyampaikan sejumlah kendala yang dihadapi Satgas dalam pelaksanaan operasi di lapangan. Berdasarkan laporan Komandan Operasi Satgas, salah satu kendala utama adalah keterbatasan armada distribusi air dibandingkan tingginya permintaan masyarakat terhadap air bersih.
Selain itu, keterbatasan sumber air bersih, kerusakan armada pemadam kebakaran di tengah tingginya frekuensi Karhutla, serta ancaman hama ulat api pada tanaman sawit menjadi persoalan yang membutuhkan penanganan segera.
Kendala lainnya adalah masih terbatasnya tindakan nyata untuk melakukan pemulihan terhadap lahan pangan yang terancam mengalami gagal panen.
Bupati Arsal Aras menegaskan bahwa seluruh unsur pemerintah dan pihak terkait harus memperkuat koordinasi dan bergerak bersama dalam menghadapi kondisi tersebut.
Operasi Satgas Siaga Darurat Bencana Kekeringan diharapkan mampu mempercepat respons pemerintah terhadap kebutuhan masyarakat, terutama dalam pemenuhan air bersih, penanganan Karhutla, perlindungan sektor pertanian dan perkebunan, serta mitigasi dampak kesehatan akibat kekeringan.
Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah juga mengajak seluruh pihak untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat gotong royong dalam menghadapi ancaman kekeringan yang berpotensi berdampak lebih luas terhadap kehidupan masyarakat. (naryo)













