DLH Wajo Kembangkan Digester Biogas Portable, Olah Kotoran Sapi Jadi Energi Alternatif
Wajo, makassarpena.id Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Wajo terus mendorong lahirnya inovasi dalam pengelolaan limbah organik. Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah pengembangan digester biogas portable (mini) sebagai teknologi sederhana untuk mengolah limbah peternakan menjadi sumber energi alternatif.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Wajo, Andi Fakhrul Rijal B., ST., MM., turun langsung ke lapangan bersama tim untuk membuat dan mengembangkan digester biogas portable tersebut.
Teknologi ini dirancang untuk mengolah kotoran sapi melalui proses penguraian bahan organik sehingga menghasilkan biogas. Gas yang dihasilkan selanjutnya dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan rumah tangga, terutama sebagai bahan bakar untuk memasak.
Andi Fakhrul Rijal B. saat ditemui media makassarpena.id, Jumat (11/9/2026), mengatakan bahwa inovasi tersebut merupakan salah satu langkah nyata DLH Wajo dalam mengubah limbah yang selama ini dianggap tidak bernilai menjadi sesuatu yang memiliki manfaat.
“Alhamdulillah, kita mencoba membuat digester biogas portable atau mini. Limbah kotoran sapi kita olah menjadi gas yang nantinya dapat dimanfaatkan untuk memasak dan kebutuhan rumah tangga lainnya,” ungkapnya.
Menurutnya, untuk tahap awal, Desa Wecudai dijadikan sebagai pilot project atau lokasi percontohan pengembangan digester biogas. Desa tersebut dipilih karena memiliki potensi limbah kotoran sapi yang cukup besar sehingga dapat menjadi sumber bahan baku dalam pengembangan teknologi tersebut.
“Untuk sementara Desa Wecudai kita jadikan pilot project. Setelah penerapannya berjalan dengan baik dan manfaatnya dapat dirasakan masyarakat, selanjutnya akan kita kembangkan lebih luas lagi,” jelasnya.
Lebih lanjut, Andi Fakhrul menjelaskan bahwa bahan baku untuk produksi biogas tidak terbatas pada kotoran sapi. Berbagai jenis bahan organik lainnya juga berpotensi dimanfaatkan sepanjang memiliki karakteristik yang sesuai untuk mendukung proses produksi biogas.
Menurutnya, pemanfaatan limbah organik menjadi biogas memiliki dua manfaat sekaligus. Di satu sisi dapat membantu mengurangi potensi pencemaran lingkungan akibat limbah peternakan, sementara di sisi lain menghasilkan sumber energi alternatif yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Karena itu, ia mengajak masyarakat untuk mulai mengubah cara pandang terhadap limbah. Limbah tidak semestinya hanya dipandang sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi juga dapat diolah dan dimanfaatkan kembali sehingga memiliki nilai guna.
“Jangan takut biogasnya habis. Selama bahan bakunya tersedia dan terus kita olah, gasnya bisa terus diproduksi. Ternyata yang selama ini kita anggap limbah, di atas tanah justru bisa menjadi sumber energi yang tidak pernah habis selama bahan bakunya terus tersedia,” pungkasnya.
Inovasi digester biogas portable yang dikembangkan DLH Wajo diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam memperkuat pengelolaan limbah organik berbasis masyarakat. Selain menghasilkan energi alternatif, inovasi tersebut juga diharapkan mampu mengurangi potensi pencemaran lingkungan serta mendorong pemanfaatan sumber daya lokal secara berkelanjutan.
Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mewujudkan Kabupaten Wajo yang lebih bersih, inovatif, dan berkelanjutan.(hakim)













