Koperasi ASN SMP Negeri 1 Pangkajene Sejahterakan Anggota
Pangkep-makassarpena.id. Segenap Pengurus Koperasi ASN Sama Rasa SMP Negeri 1 Pangkajene memberi klarifikasi dan membantah terkait adanya tudingan pemberitaan (22/08/2025) mengenai kebijakan koperasi sekolah yang menuai kritik tersebut. Hal disampaikan di kantor sementara dan ruang kerja kepala UPT sekolah pada Senin, 2 Agustus 2025.
Sebagai Sekolah Menengah Pertama tertua serta salah satu sekolah tergolong besar jumlah siswanya, SMP Negeri 1 Pangkajene dengan gerakan cepat dan tanggap merespon terhadap setiap dinamika dan permasalahan yang muncul dan terjadi terkait masalah pendidikan ataupun permasalahan umum di kalangan internal maupun eksternal sekolah.
Kepala Sekolah, Dr Mansyur bersama segenap jajaran pengurus koperasi yang terdiri dari Ketua Muas, S.Ag, Sekretaris Umar Busrah, S.Pd M.Pd, Bendahara Husnia, S.Pd, M.Pd, Pengawas, Hj Rahmatiah, S.Pd dan Nurhaida, S.Pd, serta sejumlah pengurus lainnya klarifikasi sebagai berikut.
Sebagaimana disampaikan oleh Ketua Muas, Koperasi ASN Sama Rasa SMP Negeri 1 Pangkajene yang beranggota 60 orang lebih terdiri dari kalangan guru dan staf, baik dari dalam SMP Negeri 1 Pangkajene sendiri maupun dari luar. Tujuan terbentuk Koperasi ASN SMP Negeri 1 untuk mensejahterakan anggota.
“Terkait SMP Negeri 1 Pangkajene mewajibkan siswa membeli atribut sekolah berupa rompi dan dasi, itu tidak benar sebab membeli di koperasi itu sukarela dan bahkan dapat beli dari luar atau dari manapun yang penting model dan warnanya sama dan yang diwajibkan adalah penggunaannya wajib memakai sesuai dengan jadwalnya, yang sudah jadi ciri has kebanggan sekolah sejak lama,” katanya.
Harga atribut yang dinilai cukup tinggi, pihaknya mempersilahkan dibandingkan harga kami jauh lebih murah. Mengenai transparansi pengelolaan koperasi dan arah keuntungan dari penjualan tersebut, dipersilakan untuk melakukan pemantauan sebagaimana keberadaan wartawan media yang datang saat ini.
“Penjualan rompi yang diperkirakan menghasilkan omzet lebih dari Rp 46 juta mengherankannya, tidak benar itu, keuntungannya belum ada sampai sekarang karena dicicil oleh orang tua siswa dan sudah lebih satu tahun belum lunas, kita belum menerima keuntungan masih sebatas baru balik modal saja,” terangnya.
Pengadaan atribut identitas sekolah berupa rompi dan dasi lanjutnya, kami tidak memaksa orang tua dan justru membantu orang tua untuk memudahkan mendapatkan atribut tersebut, yang pengadaannya ditentukan melalui rapat anggota koperasi dan diketahui oleh komite sekolah. Atribut sekolah ini jauh sebelumnya sudah ada namun belinya di luar dan pengadaannya di sini sudah 3 tahun, nanti tahun ini baru disoroti.

Diutarakannya, untuk menjawab pertanyaan orang tua setiap tahunnya tentang atribut SMP Negeri 1 Pangkajene, maka kita jawab beli di luar sana, akhirnya untuk memudahkan mendapatkan maka pengurus bersama anggota bersepakat untuk melakukan pengadaan atribut tersebut yang tujuannya untuk lebih memudahkan dan membantu dengan lebih murah.
Sebagaimana ditambahkan oleh Sekretaris Umar Busrah terkait masih banyak yang belum lunas tapi sudah lulus, dengan demikian tidak bayar dalam hal ini koperasi yang menanggung kerugian.
“Tujuan sebenarnya untuk memudahkan orang tua, bisa dicicil yang tidak mampu dan sementara banyak yang belum lunas sudah tamat namun belum bayar, sementara pemilik barang sudah menagih dan yang menanggung adalah masih koperasi juga,” lanjutnya.
Dijelaskan Umar, pengadaan ini juga bertujuan untuk memudahkan orang tua atau anak siswa itu sendiri agar tidak lagi mengeluarkan pengeluaran-pengeluaran lain seperti uang transport tidak lagi kesana-kemari bertanya mencari, resiko kecelakaan, menghemat waktu.
“Sebenarnya bila ada hal yang dikatakan atau kata-kata ganjil termasuk koperasi atau sekolah semestinya ada konfirmasi sebelumnya supaya kami bisa menjelaskan dengan baik dan beritanya bisa berimbang supaya kami tidak merasa dirugikan,” pesannya.
Umar menuturkan, kita sudah dapat persetujuan dari komite sebelum pengadaan atribut tersebut, kami koperasi minta pendapat dan mengizinkan dalam pengadaan itu ke toko kita dengan catatan membantu orang tua harganya jauh lebih murah dari pasaran dan bisa dicicil.
“Tahun ini untuk rompi tersebut ada berbeda-beda, warna biru navy 3 tahun yang lalu, 2 tahun lalu coklat kemudian tahun ini kembali napi. Dengan demikian kalau ada kakak-kakak kelasnya yang punya itu bisa digunakan oleh siswa bersangkutan tidak membeli lagi, jadi dengan demikian tidak otomatis hitungan harganya menjadi sebesar harganya yang sebesar itu. Karena hal tersebut, maka tidak semua laku dan banyak barang yang tertinggal di koperasi karena sifatnya tidak memaksakan,” jelasnya lagi.
Pengawas Koperasi sekaligus pengelola unit toko Nurhaedah Taha juga menambahkan, ada dua macam bentuk angsuran, pertama orang tua siswa total 350 ribu cuma bayar 100.000 dulu dan yang kedua misalnya dananya hanya bisa beli rompi saja ya rompi saja dulu kemudian yang lainnya.
“Bahkan ada orang tua siswa yang beli baju muslim karena belum ada ukurannya, maka saya pesankan sambil menunggu beberapa hari kemudian orang tua tersebut datang minta uangnya. Itu karena alasan anaknya sakit dan uang itu dikembalikan sesuai dengan harga baju muslim, dengan demikian koperasi juga rugi,” ulasnya.
Ditambahkan Muas lagi, bahkan ada anak-anak sekolah yang tidak membeli atribut sekolah dengan alasan diberikan oleh keluarganya karena kami juga tidak memaksakan beli di koperasi kami, bahkan ada beberapa orang tua siswa membeli atribut di luar koperasi dan itu kita tidak permasalahkan atribut dipakai kesekolah dan sama persis. (hamza)












