Berita

Atasi Krisis Air Bersih, PDAM Suntik air Tangki ke Pipa Diduga Hanya Beri ‘Obat Penenang’

33
×

Atasi Krisis Air Bersih, PDAM Suntik air Tangki ke Pipa Diduga Hanya Beri ‘Obat Penenang’

Sebarkan artikel ini

Atasi Krisis Air Bersih, PDAM Suntik air Tangki ke Pipa Diduga Hanya Beri ‘Obat Penenang’

Makassar, makassarpena.id – Kepala PVL (Penerima Verifikasi Laporan) Ombudsman RI Perwakilan Sulsel Herwin mengatakan, pihaknya mengira kalau PDAM Kota Makassar telah mengatasi krisis air bersih yang melanda warga khususnya di wilayah RT 11, RW 05, Kelurahan Kaluku Bodoa, Kecamatan Tallo.

Alasannya setelah ada pengaduan warga terkait krisis air bersih melalui KPPI (Koalisi Perempuan Pesisir Indonesia) dan YASMIB (Swadaya Mitra Bangsa) Sulsel ke Ombudsman pada Maret 2026, selanjutnya tidak ada lagi konfirmasi dari wilayah tersebut. Karena itu Herwin mengira krisis air bersih itu sudah teratasi oleh PDAM Kota Makassar.

Demikian tanggapan Herwin ketika dikonfirmasi terkait pengaduan atau pelaporan kasus krisis air bersih, di Kantor Ombudsman RI Perwakilan Sulsel, Jl. Letjend Hertasning, Senin, 10 Agustus 2026.

“Itu baru saja keluar KPPI dan YASMIB ,” kata Herwin sambil mengarahkan penglihatannya ke arah sejumlah tamu tersebut.

Herwin juga mengatakan, berdasarkan keterangan perwakilan warga yang melaporkan masalah krisis air bersih bahwa warga yang membayar terus biaya beban kilometer PDAM tersebut walaupun airnya tidak mengalir, sangat dilema karena kalau tidak dibayar nanti dicabut sehingga kalau pasang baru lagi harus bayar.

Tampaknya penjelasan Herwin tersebut sangat relevan dengan peristiwa yang terjadi di wilayah itu. Seperti yang dikisahkan Ratna Tina, istri Ketua RT 11, RW 05, Kelurahan Kaluku Bodoa.

Ratna menegaskan, dua puluhan tahun lalu pemasangan kilometer air PDAM dengan biaya Rp. 1.300 ribu yang awalnya, bulan pertama hingga tiga bulan airnya lancar. Namun bulan berikutnya air bersih tersebut tidak lagi mengalir.

Begitu juga pada Desember 2025, awalnya juga sungguh sangat menyenangkan karena mendapatkan pemasangan gratis dari Appi, Wali Kota Makassar. Tapi terulang lagi peristiwa yang sama hanya bulan pertama hingga bulan ketiga air bersih lancar mengalir, namun bulan berikutnya terhenti lagi.

Kini musim kemarau, lanjut Ratna, tentu krisis air bersih tambah para. Ia harus beli air bersih dengan harga Rp. 10.000,- per gerobak berisi 10 jerigen masing-masing berkapasitas 20 liter. Minimal butuh tiga gerobak setiap hari.

Ia juga mengatakan kalau PDAM sesekali melakukan injeksi alias menyuntik air bersih dari mobil tangki ke pipa induk untuk menyalurkan ke rumah-rumah warga sehingga mengalir sejenak diduga sebagai ‘obat penenang’. Begitulah cara PDAM Kota Makassar menangani krisis air bersih.

Namun menurut Ratna, krisis air bersih di wilayah RT yang diketuai suaminya, Colli Daeng Sitaba belum teratasi walaupun sudah audiens, demonstrasi bahkan melaporkan ke Ombudsman.

Bahkan ia menyebut seorang tokoh perempuan di wilayahnya bernama Nirwana turut memperjuangkan hak warga untuk mendapatkan aliran air bersih dari PDAM setiap hari.

Ironisnya, lanjut dia, walaupun dirinya bersama warga air PDAM tidak mengalir ke rumahnya tapi tetap wajib bayar biaya beban kilometer PDAM, bahkan langsung didenda jika terlambat bayar.

Namun Kasi Humas PDAM Kota Makassar, Hasan Boy yang dikonfirmasi lewat WhatsApp terkait penanganan air bersih yang melanda warga bagian Utara Kota Makassar, hingga berita ini dipublikasikan belum ada tanggapan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *