Sosiologi Ramadhan 1447 H
Oleh : Dr.H.M.Ihsan Darwis.M.Si
Dosen : Sosiologi Agama IAIN Parepare
Tulisan ini, sangat inspiratif untuk dianalisis kembali mengenai kisah seorang pemuda ingin
mengubah dunia. Pemuda itu dahulu berambisi besar. Ia ingin mengubah dunia dan bahkan
berteriak tentang keadilan, menulis tentang revolusi moral, dan mengkritik sistem sosial yang menurutnya rusak. Namun ada satu hal yang ia lupakan. Ia belum menaklukkan dirinya sendiri.
Ia berbicara tentang kejujuran, tetapi masih berdamai dengan kebohongan kecil. Ia menyeru pada kedisiplinan sosial, tetapi hidupnya sendiri tidak teratur. Ia menginginkan masyarakat yang berakhlak, namun emosinya masih mudah meledak.
Dunia terasa berat untuk diubah, karena ia
mencoba memindahkan gunung, sementara batu kecil dalam dirinya sendiri belum ia
singkirkan. Kegagalan demi kegagalan datang. Ia kecewa pada masyarakat, pada sistem, bahkan pada Tuhan.
Sampai suatu malam, dalam keheningan, ia menyadari satu hal, mungkin yang
harus ia ubah pertama kali bukanlah dunia, melainkan dirinya sendiri. Ia mulai dari hal
sederhana. Menata niat, menjaga lisan, memperbaiki shalatnya, mengendalikan amarah dan menepati janji. Ia tidak lagi sibuk menyalahkan keadaan, tetapi sibuk mengoreksi batinnya.
Perlahan, lingkaran kecil di sekitarnya mulai berubah dan keluarganya merasakan ketenangan, sahabatnya melihat keteladanan, lingkungannya mulai menghormatinya bukan karena pidatonya, tetapi karena integritasnya. Dan tanpa ia sadari, perubahan kecil itu menjalar. Dunia memang
tidak berubah seketika, tetapi dunia kecilnya berubah dan dari situlah dunia besar mulai
bergerak.
Perspektif Fenomenologi dalam Sosiologi Agama
Dalam perspektif fenomenologi, sebagaimana dikembangkan oleh Alfred Schutz, realitas sosial dipahami sebagai sesuatu yang dibangun melalui pengalaman subjektif (lived experience). Dunia tidak semata-mata “ada”, tetapi dimaknai melalui kesadaran individu.
Pemuda tersebut pada awalnya melihat dunia sebagai objek eksternal yang harus diperbaiki. Ia memandang realitas sosial secara struktural dan makro. Namun ia belum menyadari bahwa makna dunia terbentuk dari kesadaran subjektifnya sendiri.
Dalam bahasa fenomenologi, ia belum melakukan refleksi terhadap “stock of knowledge” dan horizon makna yang membentuk cara pandangnya. Ketika ia
gagal, pengalaman kegagalan itu menjadi momen reflektif.
Dalam fenomenologi, ini disebut sebagai proses reduksi atau refleksi kesadaran, ia mulai mempertanyakan asumsi-asumsi yang
selama ini dianggap pasti. Ia menyadari bahwa realitas sosial tidak hanya ditentukan oleh sistem, tetapi juga oleh tindakan bermakna (meaningful action) dari individu.
Dalam perspektif sosiologi agama. Agama berfungsi sebagai sumber makna (meaning system). Ketika pemuda itu kembali memperbaiki shalat, niat, dan akhlaknya, ia sedang merekonstruksi makna hidupnya melalui pengalaman religius. Agama tidak lagi sekadar doktrin normatif, tetapi menjadi pengalaman batin yang membentuk kesadarannya.
Fenomenologi agama melihat bahwa pengalaman religius bersifat subjektif, tetapi memiliki dampak sosial yang objektif. Transformasi batin menghasilkan transformasi sosial serta kesalehan individual menjadi dasar kesalehan sosial. Dengan kata lain, perubahan sosial berawal dari perubahan makna dalam kesadaran individu, agama menjadi medium internalisasi nilai serta kesadaran religius untuk membentuk tindakan sosial yang etis.
Kisah pemuda itu menunjukkan bahwa kegagalan bukanlah akhir, tetapi fase penting dalam pembentukan kesadaran. Ia gagal karena ingin mengubah struktur tanpa membangun subjek. Ia berhasil ketika membangun subjek dirinya sendiri yang kemudian memproduksi tindakan sosial yang bermakna.
Dalam perspektif sosiologi agama, inilah yang disebut sebagai “dialektika antara individu dan masyarakat”, manusia membentuk masyarakat dan masyarakat membentuk manusia. Namun perubahan yang autentik selalu dimulai dari kesadaran terdalam. Dunia tidak
akan berubah karena teriakan, tetapi karena keteladanan yang engkau miliki.
Setelah pemuda itu mulai memperbaiki dirinya, ia tidak lagi berbicara tentang perubahan dengan nada kemarahan, tetapi
dengan ketenangan. Ia tidak lagi menjadikan agama sebagai alat kritik sosial semata, melainkan sebagai energi transformasi diri.
Di titik inilah kisahnya menjadi menarik dalam perspektif sosiologi agama. Agama sebagai Fakta Sosial (Dimensi Kolektif). Dalam pandangan Émile Durkheim, agama bukan hanya pengalaman pribadi, tetapi “fakta
sosial” yang memiliki kekuatan mengikat.
Agama membentuk solidaritas kolektif melalui nilai, simbol, dan ritus. Pada awalnya, pemuda itu melihat agama sebatas sebagai wacana normatif seruan moral untuk memperbaiki masyarakat. Namun setelah ia menghayatinya secara personal, ia mulai memahami bahwa agama juga membangun solidaritas sosial.
Ketika ia memperbaiki akhlaknya. Ia menjadi lebih jujur dalam transaksi, Ia lebih adil dalam berteman serta ia lebih sabar dalam menghadapi tantangan dan tindakan-tindakan kecil, untuk memperkuat kepercayaan
sosial (social trust). Dalam bahasa Durkheim, ia sedang berkontribusi pada integrasi sosial dan
agama yang ia internalisasi menghasilkan kohesi sosial yang nyata.
Agama sebagai Sistem Makna (Makna Subjektif)
Dalam perspektif Max Weber, tindakan sosial menjadi penting ketika ia bermakna. Agama
memberi kerangka makna terhadap penderitaan, kegagalan, dan harapan.
Kegagalan pemuda itu sebelumnya melahirkan frustrasi karena ia memaknai dunia sebagai medan pertarungan eksternal. Namun setelah refleksi religius, ia memaknai kegagalan sebagai proses tazkiyah
(penyucian diri). Di sinilah agama berfungsi sebagai sistem interpretasi atas realitas. Ia tidak lagi berkata: “Mengapa dunia tidak berubah?” Akan tetapi ia berkata: “Apa makna kegagalan ini bagi pertumbuhan jiwaku?”.
Perubahan makna ini mengubah tindakannya. Dan ketika tindakan berubah, struktur sosial pun perlahan mengalami pergeseran.
Internalisasi Nilai dan Konstruksi Realitas
Jika kita melihatnya melalui kacamata Peter L. Berger, masyarakat adalah hasil konstruksi
manusia, namun kemudian menjadi realitas objektif yang mempengaruhi manusia kembali.
Pemuda itu dahulu ingin merombak struktur sosial secara besar-besaran. Tetapi ia lupa bahwa struktur sosial dibangun dari tindakan-tindakan kecil yang berulang dan dilegitimasi.
Ketika ia mulai konsisten dalam ibadah, konsisten dalam etika kerja, konsisten dalam kejujuran. Ia sedang menciptakan “habitualisasi” nilai. Jika kebiasaan ini ditiru oleh orang lain, ia menjadi institusi sosial kecil.
Dari keluarga, ke komunitas, lalu ke masyarakat. Perubahan sosial ternyata
bukan dimulai dari revolusi besar, tetapi dari internalisasi nilai yang konsisten.
Agama sebagai Energi Transformasi Sosial
Dalam sosiologi agama kontemporer, agama tidak hanya dilihat sebagai sistem kepercayaan,
tetapi sebagai sumber moral capital (modal moral). Pemuda itu, ketika telah matang secara
spiritual, tidak lagi berbicara tentang mengubah dunia dengan retorika, tetapi dengan keteladanan. Ia mulai membina remaja di lingkungannya, menjadi penengah dalam konflik kecil, ia membangun keluarga yang harmonis serta menggerakkan kegiatan sosial berbasis masjid.
Tanpa ia sadari, ia telah menjadi agen perubahan (agent of social change). Dan di sinilah pelajaran sosiologisnya menjadi jelas:
1. Agama membentuk kesadaran.
2. Kesadaran membentuk tindakan.
3. Tindakan membentuk kebiasaan.
4. Kebiasaan membentuk struktur sosial.
5. Struktur sosial mempengaruhi generasi berikutnya.
Refleksi Akhir
Pemuda itu dahulu ingin mengubah dunia, tetapi gagal karena ia berdiri di luar dunia yang ia kritik. Ia lupa bahwa ia bagian dari struktur itu sendiri. Dalam perspektif sosiologi agama,
perubahan sosial bukan hanya persoalan sistem, tetapi persoalan makna, kesadaran, dan
internalisasi nilai religius. Dan akhirnya ia memahami satu kebenaran sederhana. Agama bukan sekadar ide untuk memperbaiki masyarakat, tetapi pengalaman batin yang melahirkan tindakan sosial yang berkeadaban.
Dunia tidak berubah karena kemarahan terhadap sistem, tetapi karena
manusia-manusia yang berubah di dalam dirinya.
Wallahu A’lam Bishawab Allah mengetahui kebenaran yang sesungguhnya.
Catatan: Narasi ini disusun dari hasil bacaan dan pikiran penulis serta berbagai literatur sosiologi agama













