Agama

Kisah Cinta Seorang Ibu yang Tak pernah Usai

68
×

Kisah Cinta Seorang Ibu yang Tak pernah Usai

Sebarkan artikel ini

Kisah Cinta Seorang Ibu yang Tak pernah Usai

Oleh : M.Ihsan Darwis
Dosen Sosiologi Agama IAIN Parepare

Melalui pena ini, saya ingin mengajak para pembaca untuk merenungi kembali.
Sudah sejauh mana kita membalas cinta yang tak pernah usai itu?. Sudahkah kita
memahami bahwa di balik keberhasilan kita hari ini, ada air mata dan doa seorang ibu yang
menjadi fondasinya?.

Karena sesungguhnya, ketika dunia terasa menolak, seorang ibu tetap
membuka pelukannya. Dan ketika semua cinta bisa berubah, cinta seorang ibu tetap tinggal
utuh, tulus, dan tak pernah usai. Melalui pena ini, mungkin kita pernah membaca kisah
tersebut atau setidaknya pernah mendengarnya melalui buku, majalah, maupun berbagai media
lainnya.

Namun, tidak semua dari kita benar-benar merenungkan makna yang terkandung di
dalamnya atau tidak semua pula menjadikan kisah itu sebagai bahan refleksi dalam kehidupan sehari-hari.

Singkat cerita:, Al-kisah, seorang anak laki-laki bersama ibunya yang bermata satu.
Sejak kecil, ia sering merasa malu dengan keadaan sang ibu. Baginya, sosok ibu yang hanya memiliki satu mata adalah aib yang membuatnya menjadi bahan ejekan teman-temanya.

Setiap kali ibunya datang ke sekolah atau menyapanya di depan teman-temannya, hatinya dipenuhi rasa kesal dan marah. Pada suatu hari, ketika ibunya menyuguhkan makanan dan memanggilnya dengan senyum hangat, anak itu justru membalas dengan kebencian.

Ia lari menjauh, seakan-akan kehadiran ibunya adalah beban baginya. Ejekan teman-temannya
membuatnya semakin tersiksa. Dalam hatinya terlintas keinginan agar ibunya menghilang
dari hidupnya. Puncaknya kemarahan anak, dengan emosi yang meluap, ia membentak
ibunya dengan kata-kata yang sangat menyakitkan.

Ia bahkan mengatakan bahwa akan lebih baik jika ibunya pergi saja dari dunia ini. Sang ibu hanya terdiam. Tidak ada amarah,
tidak ada pembelaan hanya kesunyian yang menanggung luka. Datanglah dari seorang
tetangga, ia mendengar kabar bahwa ibunya telah meninggal dunia. Tanpa banyak kata,
tetangga itu menyerahkan sepucuk surat yang ditinggalkan sang ibu untuknya.

Dengan tangan gemetar, ia membuka surat itu.
Apa isi surat tersebut?. Ternyata sang ibu menuliskan bahwa ia selalu bangga pada
anaknya. Ia meminta maaf karena pernah membuat anaknya malu. Lalu di akhir surat,
terungkap sebuah rahasia yang selama ini tak pernah diketahui.

Ketika sang anak kecil mengalami kecelakaan dan kehilangan satu matanya, sang ibu rela memberikan salah satu kelopak matanya agar anaknya dapat melihat dunia dengan sempurna. Ia tidak pernah
menyesal hidup dengan satu mata. Baginya, kebahagiaan terbesar adalah melihat anaknya
mampu memandang dunia, berjalan jauh, dan meraih impiannya.

Saat itulah hati sang anak runtuh. Ia menyadari bahwa mata yang selama ini membuatnya malu justru adalah simbol cinta yang paling tulus. Air mata yang tertahan selama bertahun-tahun akhirnya jatuh, namun semua sudah terlambat.

Kisah ini, mengajarkan untuk kita semua khususnya bagi yang membaca pena ini,
bahwa cinta ibu sering kali tersembunyi dalam pengorbanan yang sunyi. Jangan menunggu
kehilangan untuk menyadari arti kehadirannya. Selagi ibu masih ada, peluklah ia,
hormatilah ia, dan jagalah hatinya. Karena tidak ada cinta yang lebih tulus dari pada cinta
seorang ibu.

Oleh karena cinta seorang ibu adalah cinta yang tidak mengenal batas. Ia tidak menuntut balasan, tidak meminta pengakuan, bahkan sering kali rela terluka demi kebahagiaan anaknya. Di balik senyum yang sederhana, tersimpan pengorbanan yang tak selalu diketahui.

Kisah tentang ibu bermata satu tersebut bukan sekadar cerita sentimental, melainkan refleksi sosial yang sangat dalam. Dalam paradigma sosiologi, keluarga dipahami sebagai institusi sosial dalam proses sosialisasi. Seorang ibu bukan hanya figur biologis, tetapi juga agen sosial yang membentuk nilai, norma, dan karakter anak sejak dini.

Sejak kecil, anak belajar tentang kasih sayang
sang ibu, empati, dan moralitas dari interaksi dengan ibunya. Namun dalam kisah ini,
terjadi benturan antara nilai keluarga dan tekanan lingkungan sosial (peer group). Ejekan
teman-teman membuat sang anak lebih mengutamakan pengakuan sosial dari pada kasih sayang ibunya.

Ini menunjukkan bagaimana struktur sosial dapat memengaruhi kesadaran dan sikap individu. Demikian halnya menurut pandangan Erving Goffman, bahwa kisah tersebut merupakan stigma bagian dari label sosial yang membuat seseorang dipandang
“berbeda” atau “tidak normal”.

Jadi Ibu bermata satu dalam cerita ini menjadi korban stigma. Sang anak, yang belum matang secara emosional, gagal memahami bahwa identitas sang ibu tidak ditentukan oleh kekurangan fisik, melainkan oleh pengorbanan dan ketulusannya.

Hari demi hari, anak itu berhasil meraih pendidikan tinggi dan sukses, ia
mengalami mobilitas sosial vertikal. Namun keberhasilan anak itu justru menciptakan
jarak emosional dari akar sosial ibunya sendiri.

Dalam kacamata sosiologi, ini disebut
sebagai bentuk alienasi kultural, yaitu keterasingan dari nilai-nilai asal demi untuk
mendapatkan status sosial.

Demikian pula dalam paradigma sosiologi agama, cinta seorang ibu tidak hanya
dipahami sebagai relasi sosial, tetapi juga sebagai nilai sakral yang memiliki dimensi
spiritual. Dalam banyak tradisi agama, khususnya Islam, ibu memiliki posisi yang sangat mulia.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “surga berada di bawah telapak kaki ibu.” Ini
menunjukkan bahwa relasi ibu dan anak bukan hanya hubungan sosial, tetapi juga
hubungan yang bernilai ibadah.

Kisah tersebut diperkuat oleh pandangan Émile
Durkheim, bahwa agama berfungsi untuk memperkuat solidaritas sosial dan menciptakan
kesadaran kolektif juga menghormati ibu menjadi bagian dari kesadaran moral beragama dan ketika seorang anak menyakiti ibunya, ia bukan hanya melanggar norma keluarga,
tetapi juga norma sakral masyarakat beragama.

Dari kisah tersebut menunjukkan bahwa cinta sang ibu terhadap anaknya tak kenal lelah sampai kapanpun dan rela mengorbangkan satu kelopak matanya demi untuk sang
buah hatinya, ini disebut sebagai altruisme murni atau sebagai pengorbanan tanpa pamrih.

Dalam sosiologi agama, tindakan seperti ini dipandang sebagai manifestasi nilai-nilai
transenden, dimana seseorang bertindak melampaui kepentingan diri demi kebaikan anak dan keluarganya maupun orang lain.

Dalam bahasa sosiologi agama, ini adalah momen ketika pengalaman emosional memicu kesadaran spiritual dan penyesalan menjadi pintu refleksi, meski sering kali datang terlambat.

Sebagai penutup pena ini, dalam kacamata sosiologi, ibu merupakan bagian dari
fondasi struktur sosial. sedangkan dalam perspektif sosiologi agama, ibu merupakan
sebuah simbol cinta yang disakralkan. Cinta sang ibu bukan hanya perasaan personal,
melainkan kekuatan sosial yang membentuk peradaban.

Jika keluarga runtuh, masyarakat
pun rapuh. Dan jika nilai penghormatan kepada ibu memudar, maka sesungguhnya yang
hilang bukan hanya kasih sayang, tetapi juga fondasi moral sebuah bangsa.

Sebagai seorang akademisi sosiologi agama dan para muballig, bahwa kisah ini bukan sekadar cerita haru, tetapi cermin sosial dan spiritual.
Semoga para pembaca pena ini, dapat menjadi pelajaran bagi kita semua dan berpegang teguh nilai-nilai falsafah orang tua yang pernah diajarkan kepada anak-anaknya
yakni: “Sipakatau, Sipakalebbi, Sipakaingnge.

Wallahu A’lam Bisawab: Allah yang paling
tahu kebenarannya
Catatan: kisah cinta seorang ibu yang tak pernah usai merupakan hasil bacaan dan
pikiran juga berbagai sumber literasi dari ilmu sosiologi agama.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *