Agama

Pemimpin Politik Sekaligus Pemimpin Spiritual

201
×

Pemimpin Politik Sekaligus Pemimpin Spiritual

Sebarkan artikel ini

Pemimpin Politik Sekaligus Pemimpin Spiritual

Makassar, makassarpena.id – Jika pengurus masjid di Kota Makassar akan menghadirkan penceramah kondang di hadapan jamaah tampaknya tidak menemukan kendala terlalu sulit. Begitu banyak ustads berlabel sebagai penceramah hebat bisa didatangkan, tergantung finansial termasuk untuk akomodasi.

Namun untuk menghadirkan penceramah atau pemimpin spiritual sekaligus pemimpin politik tampaknya mengalami sedikit kendala. Bukan karena butuh finansial yang mahal, tapi memang sangat jarang ditemukan pemimpin politik yang mampu mempersembahkan ceramah Agama Islam, khususnya khotbah Jumat dan ceramah taraweh.

Walaupun jadwal kegiatan sangat padat selaku pejabat legislatif, namun masih bisa meluangkan waktu sebagai khatib Sholat Jum’at dan ceramah taraweh, khususnya di Masjid Al Ikhlas Komp. PHP, Jl. Aroepala.

Karena itu penampilan Anwar Faruq, Ketua DPW PKS Provinsi Sulsel selaku khatib sholat Jum’at dan penceramah taraweh tersebut sebagai pembeda dengan pemimpin politik pada umumnnya.

Pemimpin politik yang mampu ceramah agama Islam merupakan potensi kombinasi antara pemimpin politik (siyasah) dan pemimpin spiritual (dakwah) yang ideal, selama ia mampu menempatkan kedua peran tersebut secara proporsional.

Menurut Anwar Faruq yang juga Wakil Ketua DPRD Kota Makassar bahwa dalam Islam, memisahkan secara total antara  politik dan agama adalah hal yang sulit karena politik merupakan salah satu cara menjaga kemaslahatan umat.

Politikus PKS tersebut juga menegaskan, sebagai pendidik politik (politik santun), maka pemimpin politik yang penceramah diharapkan mampu memberikan pendidikan politik yang cerdas, menyejukkan, dan tidak memecah belah umat.

Ceramah yang disampaikan lanjut dia, seharusnya meningkatkan kecerdasan pemilih, bukan narasi kebencian.

Ia memaparkan lebih jauh bahwa sebagai pemimpin politik memahami fikih siyasah atau berilmu agama seharusnya mengerti etika politik, seperti prinsip musyawarah (syura), kejujuran dalam berjanji, dan menjaga amanah.

Bukan cuma itu tambahnya, tapi juga ada check and balance moral, artinya kombinasi ini diharapkan melahirkan pemimpin yang takut kepada Allah jika menyalahgunakan wewenang, karena ia paham tanggung jawab seorang pemimpin tidak hanya di dunia, tetapi juga di akhirat.

Legislator yang akrab disapa Pak Ustads, menekankan sebagai pemimpin politik sekaligus pemimpin spiritual, mampu menjaga kode etik penceramah dengan tetap santun dan tidak menghujat pihak lain. Juga mampu membedakan ranah dakwah yakni mengajak kebaikan dan ranah politik praktis (pertarungan kekuasaan) agar ceramahnya tetap obyektif dan mendidik.

“Secara umum, ini adalah aset berharga jika digunakan untuk kemaslahatan, namun memerlukan integritas tinggi agar perannya tidak bertentangan satu sama lain,” ungkapnya usai ceramah taraweh kemarin malam. (daeman)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *