K3S Segeri Gelar Rapat dalam Bersinergi, Berkolaborasi Untuk Pendidikan Bermutu
Pangkep makassarpena.id – Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S), Kecamatan Segeri, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan menggelar rapat rutin yang berlangsung di Sekolah Dasar Negeri 1 Segeri, Kelurahan Bonto Matene, pada Sabtu, 7 November 2026.
Rapat mengusung tema “Bersinergi, Berkolaborasi untuk Pendidikan Bermutu,” dipimpin Sekretaris K3S Segeri Arif Ahmad, S.Pd, diikuti oleh para Kepala UPT SD se- Kecamatan Segeri.
Pimpinan K3S kali ini menampilkan narasumber senior di dunia pendidikan Kabupaten Pangkep. Ia adalah Pengawas Sekolah Wilayah 1 Segeri H Nasaruddin, S.Pd M.Pd dan Mansyur, S.Pd, M.Pd.,
Sekretaris K3S Segeri Arif Ahmad dalam kapasitasnya mewakili Ketua Mulyadi Mustari, S.Pd menyampaikan bahwa pelaksanaan rapat rutin yang berlangsung di SDN 1 Segeri di bawah pimpinan sekolah Syamsiah, S.Pd ini sudah sesuai standar target sebagaimana harapan semula.
“Artinya terkait masalah kebijakan-kebijakan dari atas, misalnya kegiatan-kegiatan pelatihan untuk ditindaklanjuti oleh teman-teman Kepala Sekolah, utamanya terkait peningkatan mutu di sekolah masing-masing serta berbagai masalah-masalah perkembangan pendidikan terkini lainnya,” ungkapnya.
Dalam kesimpulan Sekretaris K3S Arif Ahmad dari materi yang disampaikan oleh kedua Narasumber, H Nasaruddin dan Mansyur yang disampaikan secara berpadu terkait kepemimpinan instruksional jadi kunci mutu pembelajaran.
“Bahwasannya kepemimpinan instruksional kepala sekolah menjadi kunci utama dalam meningkatkan mutu pembelajaran dan hasil belajar peserta didik. Hal tersebut mengemuka dalam analisis peta konsep kepemimpinan instruksional kepala sekolah yang diterapkan di sekolah,” katanya.
Menurutnya, kepala sekolah tidak hanya dituntut mampu mengelola administrasi, tetapi harus hadir sebagai pemimpin pembelajaran yang mengarahkan seluruh sumber daya sekolah untuk peningkatan kualitas belajar di kelas.
“Kepemimpinan instruksional itu bukan soal banyaknya program yang dibuat, tetapi seberapa besar perubahan positif yang terjadi pada guru dan peserta didik,” lanjutnya.
Dipaparkan terkait Siklus kepemimpinan instruksional. Dalam peta konsep tersebut, kepemimpinan instruksional dijalankan melalui siklus berkelanjutan:
1. Visi, Misi dan Tujuan: Menentukan arah peningkatan mutu sekolah yang berorientasi pada peserta didik.
2. Penentuan Prioritas: Memetakan kebutuhan nyata berdasarkan Rapor Pendidikan, hasil supervisi, dan kondisi pembelajaran.
3. Perencanaan: Menyusun program supervisi, literasi, numerasi, pembelajaran berdiferensiasi, dan pemanfaatan teknologi.
4. Pelaksanaan dan Pendampingan: Guru melaksanakan pembelajaran berpusat pada murid, aktif, dan mendalam. Kepala sekolah melakukan supervisi dan pendampingan.
5. Monitoring dan Evaluasi: Mengukur ketercapaian tujuan, kualitas mengajar guru, dan hasil belajar siswa.
6. Refleksi dan Tindak Lanjut: Memperbaiki strategi dan mengembangkan inovasi pembelajaran.
Sementara implementasi di sekolah, peta konsep ini diterjemahkan ke dalam program konkret, antara lain supervisi akademik dan refleksi pembelajaran, pembiasaan membaca 15 menit, permainan numerasi, penggunaan perangkat digital, komunitas belajar antar guru, penguatan budaya positif dan antiperundungan, serta analisis Rapor Pendidikan.
Seluruh program dilengkapi indikator keberhasilan, penanggung jawab, jadwal, dan mekanisme evaluasi agar tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan.
“Visi sekolah tidak boleh hanya menjadi tulisan yang terpajang di dinding, tetapi harus hidup dalam kegiatan nyata dan budaya pembelajaran sehari-hari,” tegasnya.
Ditambahkan, dengan kerangka ini, peta konsep diharapkan menjadi pedoman nyata kepala sekolah dalam membangun kolaborasi, membimbing guru, mengambil keputusan berbasis data, dan memastikan setiap program berdampak langsung bagi peserta didik. (hamza)













