Berita

Ironi Kemerdekaan Digital: Merauke Hadapi Krisis Jaringan di Tengah Tuntutan Pendidikan Tinggi

105
×

Ironi Kemerdekaan Digital: Merauke Hadapi Krisis Jaringan di Tengah Tuntutan Pendidikan Tinggi

Sebarkan artikel ini

Ironi Kemerdekaan Digital: Merauke Hadapi Krisis Jaringan di Tengah Tuntutan Pendidikan Tinggi
Oleh Riri Mulkhaeri.

Merauke, 20 Agustus 2025. Sejak tanggal 16 Agustus 2025, sehari sebelum Upacara Kemerdekaan RI digelar, Kabupaten Merauke Provinsi Papua Selatan mengalami kelumpuhan akses jaringan yang memaksa segala profesi pekerjaan ikut terhambat. Termasuk kehidupan kampus bagi Mahasiswa yang ingin berkuliah dan Dosen dalam pemenuhan Tri Darma Perguruan Tinggi.

Sebagai kota yang berada di Ujung Timur Indonesia, dan Provinsi yang baru dimekarkan belum genap 5 tahun ini, mengalami beberapa kendala termasuk kebutuhan yang saat ini menjadi sangat penting bagi masyarakat, yaitu jaringan. Walaupun pernah dinobatkan sebagai wilayah 3T, kecepatan akses Jaringan diwilayah ini termasuk cepat dan pesat, namun hanya difasilitasi oleh 1 Provider unggulan yaitu PT. Telkom.

Permasalahan yang saat ini terjadi, Telkom mengumumkan melalui holding statementnya bahwa telah terjadi gangguan instalasi jaringan dikarenakan putusnya Sistem Komunikasi Kabel Laut (SKKL) Sorong- Timika-Merauke. Akibatnya, roda kehidupan masyarakat yang bergantung pada kecepatan jaringan khususnya di Kabupaten Merauke harus menelan pahitnya terisolir.

Dalam dinamika kehidupan kampus yang harus terus dilanjutkan sebagai agenda mencerdaskan kehidupan bangsa juga harus tertunda dan terhambat. Para Dosen dan Tenaga Kependidikan terpaksa harus menutup rapat laptop mereka karena jaringan yang menjadi tumpuan pekerjaan raib, padahal pekerjaan yang dibiarkan menumpuk ini akan menjadi bom waktu jika dibiarkan tertunda lama. Termasuk perkuliahan mahasiswa yang memasuki tahun ajaran baru Ganjil 2025/1 harus disambut dengan jaringan yang tidak bersahabat.

Perkuliahan bisa saja dilangsungkan namun kendala besarnya adalah mahasiswa baru yang baru menapaki kehidupan kampusnya saat ini belum mengetahui jadwal perkuliahan, pengurusan krs yang segalanya bertumpu pada jaringan serta janji temu dosen dan mahasiswa yang sulit.

Sangat disayangkan bahwa Provinsi baru sekelas Papua Selatan yang harusnya sudah naik level membahas dan berdiskusi terkait digitalisas pendidikan yang unggul dari ujung timur indonesia masih bergelut dengan masalah jaringan dan berulang tiap tahun seolah menjadi agenda rutin tahunan yang terjadi tanpa pemecahan masalah yang efektif. Dan lebih mengkhawatirkan, jangka waktu penurunan koneksi internet ini sampai batas yang belum dapat PT. Telkom pastikan, walau saat ini PT. Telkom telah mengupayakam perbaikan yang katanya melalui Armada Laut.

Akses internet yang terbatas membuat proses belajar mengajar terhambat, khususnya pada sistem perkuliahan yang memerlukan literatur daring, riset berbasis data digital, hingga pengumpulan tugas mahasiswa melalui platform akademik. “Mahasiswa kesulitan mengakses referensi untuk penelitian dan perkuliahan. Padahal, sumber belajar utama saat ini ada di internet,” ungkap salah seorang dosen di Merauke.

Dampak yang lebih luas dirasakan pada pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Kegiatan penelitian dosen terkendala karena sulit mengakses jurnal internasional, publikasi ilmiah, maupun komunikasi dengan jejaring akademik di luar Papua. Pengabdian masyarakat yang sebagian besar dilakukan dengan dukungan teknologi juga ikut tersendat. Bahkan, administrasi dan pelaporan akademik kampus yang berbasis sistem daring tidak berjalan optimal.
Situasi ini memperlebar jurang ketimpangan antara Papua dan wilayah lain di Indonesia. Ketika perguruan tinggi di kota besar tengah gencar mengembangkan inovasi berbasis digital, kampus di Papua Selatan justru berjuang menghadapi hambatan konektivitas. Kondisi ini seharusnya tidak terjadi, terlebih di era digitalisasi pendidikan yang dicanangkan pemerintah.

Warga akademik berharap pemerintah pusat dan penyedia layanan telekomunikasi segera mengambil langkah cepat dan tepat. Akses jaringan yang stabil bukan hanya kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menjadi kunci pemerataan pendidikan dan pengembangan kualitas sumber daya manusia di tanah Papua.

Berkaitan dengan itu, seharusnya permasalahan ini menjadi kontra terhadap program unggulan Presiden Prabowo yang ingin mewujudkan Indonesia Emas 2045 melalui perbaikan kualitas pendidikan. Seharusnya, Merauke yang menjadi pusat peradaban kehidupan Timur yang berbatasan langsung dengan Papua Nugini dan Laut Arafura, berbagai macam etnis, suku, ras dan agama bersatu dalam satu kota, di bumi Animha yang menjunjung tinggi hak ulayat masyarakat papua, harusnya dibarengi dengan digitalisasi yang semakin pesat.

Kedepan, semua elemen masyakarat berharap bahwa kejadian yang sama tidak terulang ditahun tahun selanjutnya, dan permasalahan saat ini dapat diatasi segera tanpa harus mengorbankan berbagai aspek kehidupan yang menggantungkan semuanya pada akses internet, khususnya dalam bidang pendidikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *