Pendidikan

HUT PGRI ke 80 di Wajo: Momentum Menguatkan Peran Guru sebagai Penerang Bangsa

46
×

HUT PGRI ke 80 di Wajo: Momentum Menguatkan Peran Guru sebagai Penerang Bangsa

Sebarkan artikel ini

HUT PGRI ke 80 di Wajo: Momentum Menguatkan Peran Guru sebagai Penerang Bangsa

Sengkang, makassarpena.id — Peringatan Hari Ulang Tahun ke-80 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) yang dirangkaikan dengan Hari Pendidikan Nasional 2025 berlangsung khidmat di Lapangan Merdeka Sengkang, Selasa (25/11/2025).

Acara tersebut turut dihadiri Bupati Wajo, H. Andi Rosman, S.Sos., bersama Wakil Bupati Wajo, dr. H. Baso Rahmanuddin, M.Kes. Unsur Forkopimda, para pimpinan OPD, serta seluruh kepala sekolah se-Kabupaten Wajo juga hadir memeriahkan momentum bersejarah bagi dunia pendidikan tersebut.

Ketua PGRI Kabupaten Wajo, Dr. Muhammad Nur, S.Pd., M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa peringatan HUT PGRI bukan sekadar acara seremonial, tetapi menjadi ruang untuk kembali meneguhkan semangat perjuangan para pendidik dalam perjalanan bangsa.

“Momentum ini mengingatkan kita bahwa, bangsa Indonesia dapat bangkit dari penjajahan kolonialisme berkat perjuangan para leluhur, termasuk para guru yang menjadi penerang bagi generasi bangsa,” ujarnya.

Ia juga mengutip pesan bijak John Dalberg-Acton: “Sejarah bukanlah beban ingatan melainkan penerangan jiwa.”
Menurutnya, nilai sejarah tersebut harus menjadi pengingat bahwa profesi guru adalah pilar penting dalam perjuangan menghadirkan kemerdekaan dan peradaban bangsa.

Dr. Muhammad Nur kemudian menyinggung sejarah terbentuknya PGRI yang berawal dari perjuangan para guru pribumi pada masa kolonial Belanda. Pada tahun 1912, lahirlah Persatuan Guru Hindia Belanda (PGHB), organisasi unitaristik yang mewadahi guru bantu, guru desa, kepala sekolah, dan penilik sekolah.

Meski datang dari latar pendidikan dan strata sosial yang berbeda-beda, para guru tersebut tetap bersatu memperjuangkan martabat profesi dan nasib para pendidik, hingga melahirkan berbagai organisasi guru lainnya yang memperkaya dinamika pendidikan nasional.

Sementara itu, Sekretaris Daerah Kabupaten Wajo, Ir. Armayani, yang membacakan sambutan seragam Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, menekankan pentingnya memperkuat komunikasi yang sehat antara guru dan murid. Ia mengingatkan agar para pendidik tidak hanya menilai peserta didik melalui angka semata.

“Sejatinya, tanggung jawab pendidikan yang pertama dan utama berada pada orang tua dan keluarga. Berikanlah ruang bagi para guru untuk membantu mendidik anak-anak dengan cara terbaik, melalui komunikasi yang baik, kerja sama, serta saling menghargai,” pesannya.

Dalam sambutan tersebut juga disampaikan lima nasihat Presiden Prabowo Subianto kepada para siswa:
1. Belajarlah yang baik!
2. Cintai ayah dan ibu!
3. Hormati guru!
4. Rukun dengan teman!
5. Cintai tanah air dan bangsa!

“Muliakanlah dirimu dengan memuliakan gurumu, karena ridha dan doa guru menentukan masa depanmu,” demikian pesan yang disampaikan kepada para pelajar.

Menutup sambutan, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menyampaikan apresiasi kepada seluruh guru atas dedikasi dan perjuangan mereka dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.

“Terima kasih Bapak dan Ibu Guru atas segala dharma bhakti yang tidak ternilai oleh materi. Teruslah mengabdi untuk negeri. Di tanganmulah kualitas sumber daya manusia serta masa depan bangsa dan negara ditentukan.”(Hakim).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *