Spirit Berkurban dalam Tatanan Konferensi PWI Sulawesi Selatan
Oleh : Anwar Sanusi
Makna berkurban sebagai bentuk wujud ketaatan, dan mengajarkan kepatuhan total kepada aturan dan tanggungjawab terhadap amanah dan perintah berpedoman pada aturan.
Selain itu, berkurban melatih keikhlasan dan mengingatkan bahwa setiap manusia harus siap berkorban demi kebaikan, baik tenaga, waktu, pikiran, maupun harta. Nilai utamanya bukan pada apa yang kita kurbankan, tetapi seberapa besar nilai keikhlasan hati kita berkurban.
Berkurban tidak hanya dapat mensucikan jiwa kita, lebih dari itu kurban dapat menjaga sifat ego dan keserakahan semata. Kurban memiliki peran menumbuhkan kepedulian sosial dalam menjaga nilai-nilai kebersamaan.
Kurban dalam konteks perebutan kursi nomor satu di tubuh PWI Sulsel sejatinya dapat dipahami sebagai bentuk menyembeli sifat ingin menang sendiri, lebih baik dari orang lain, dan yang terpenting membangun kesadaran diri untuk tumbuh bersama dalam rumah besar wartawan tanpa harus mencederai satu dengan yang lainnya.
Konferensi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Provinsi Sulawesi Selatan adalah agenda lima tahunan yang diharapkan bebas dalam praktek kolusi dan nepotisme. Melahirkan orang-orang unggul, dan berahlak.
Spirit Berkurban dalam Tatanan Konferensi PWI Sulawesi Selatan” mengajarkan kita semua betapa pentingnya modal moral bagi insan pers untuk menomorsatukan keikhlasan, dedikasi, dan pengorbanan ego pribadi demi memperjuangkan maruah jurnalistik yang lebih berkualitas. Nilai ini menjadi landasan etika agar momentum pemilihan dan musyawarah berjalan secara demokratis.
Anggota PWI dituntut idealis dan menolak transaksional. Jurnalis memilih pemimpin yang mengedepankan gagasan dan program kerja ketimbang politik uang dalam suksesi kepemimpinan organisasi.

Semangat Konferensi PWI Sulsel melahirkan pemimpin yang abdi organisasi. Ia dapat meluangkan waktu, tenaga, dan pikiran secara sukarela untuk membesarkan PWI tanpa mengharapkan imbalan materi. Pemimpin yang memiliki empati Sosial, menjadikan pers sebagai corong penyampai kebenaran.
Dari pandangan saya selaku anggota PWI sejak 1999, menjadi pengurus seksi dua periode dan ketua seksi satu periode, juga mantan sekretaris Sulsel periode 2015-2020, tanpa mendiskreditkan calon lain, ada dua sosok calon pemimpin PWI Sulawesi Selatan yang sangat kredibel.
H.Suwardi Thahir dan Dr. H. Dahlan Abubakar dipercaya dapat menjaga maruah profesi, kedua sosok sarat pengalaman ini juga dipercaya dapat menegakkan Kode Etik Jurnalistik dan independensi.
Sejalan dengan pengalaman panjang dan rekam jejak kedua sosok tokoh pers Sulawesi Selatan ini, muncul harapan besar dari anggota PWI yang tersebar di berbagai kabupaten/kota agar keduanya mampu menahkodai rumah besar wartawan dengan penuh integritas, profesionalisme, serta semangat persatuan demi kemajuan organisasi ke depan.
Kehadiran kedua sosok kharismatik ini menjadi spirit baru bagi seluruh anggota untuk memperkuat soliditas, menjaga maruah organisasi, serta membawa harapan lahirnya kepemimpinan yang bijak, berintegritas, dan mampu merangkul semua pihak.
Mereka muncul laksana mata air di tengah dahaga, membawa harapan baru bagi tumbuhnya persatuan, keteduhan, dan semangat perubahan dalam organisasi.
Namun harapan dan impian untuk memenangkan kedua calon ini tidak akan mungkin tercapai, jika kita sebagai pemilik rumah besar ini tidak berikhtiar untuk keluar dari berbagai persoalan serta mengurai benang kusut yang selama ini membelit tubuh organisasi.
Kejayaan organisasi sangat ditentukan oleh seberapa besar keinginan untuk tumbuh dan bergerak dalam bingkai kebersamaan. Maju atau runtuhnya organisasi bukan ditentukan oleh seberapa kuat kejahatan yang bermain di belakang layar, melainkan oleh sikap dan keberanian anggota yang masih berpikir jernih serta menjunjung akal sehat demi menyelamatkan maruah PWI.
“Belajarlah dari masa lalu agar tidak kembali terperosok pada lubang yang sama”
Salam hormat.













