Silaturahmi Pencinta Masjid, Sebuah Evaluasi Manajerial
Makassar, makasssarpena.id – Berawal dari Silaturrahim Virtual penulis Buku Dr.Amruddin AE dan keluarga besar pemuda remaja masjid, akhirnya disepakati untuk menindaklanjutinya dengan silaturrahim ofline, maka pada ahad, 4 Januri 2026 dengan mengangkat Tema:
Masjid sebagai Jantung Umat: Evaluasi 2025 dan Arah Gerak Persatuan 2026
Forum silaturahmi dan dialog strategis lintas ormas Islam untuk memperkuat peran masjid sebagai pusat persatuan, dakwah, dan peradaban umat menuju Indonesia yang harmonis dan berkemajuan.
Para nasumber yang menjadi Pemantik Dialog yakni: Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulsel, MUI Sulsel, PWNU Sulsel, dan PW Muhammadiyah, PW DMI Sulsel, Ketua ICMI Orwil Sulsel, Ketua PW DDI Sulsel, serta DPP IMMIM.
Kepala Kanwil, Dr. Ali Yafid, M.Pd., menegaskan bahwa pengelolaan masjid harus tetap kolaborasi antara pemerintah lewat PMA/2026 dengan jamaah dan ormas. Semua Kantor Kemenag bahkan sampai KUA dan Penyuluh harus pegang masjid, untuk menjadikan masjid tempat ekonomi, persatuan, dibuktikan dengan Protas Menag RI, termasuk pesantren berdaya, dan pemberdayaan digitalisasi.
Selanjutnya MUI Sulsel, Prof. Muammar Bakry, menjelaskan istilah masjid yang berarti tempat sujud, bukan maqam (kuburan), bukan marka’ (tempat ruku’), dan bukan Majelis (tempat duduk), sehingga berpotensi tempat demo. Juga agar bukan sekedar formalitas, tunduk kepada Allah swt. Sehingga selalu diakhiri dengan salam, berdampak ke umat.

Beliau juga menegaskan bahwa betapa urgensinya membuat data jama’ah masjid, sehingga bukan hanya jama’ah shalat.
Seiring dengan itu penasehat DPP IMMIM, prof. Ahmad M Sewang, mengaskan bahwa perbedan peran masjid di era nabi, jika dibandingkan dengan era kekinian, bahwa semua dilakukan di masjid, tangkat penjahat sekalipun di masjid, sementara di era sekarang semakin dipersempit makna dan fungsinya, hanya ibadah mahda.
Sementara salah seorang fisikawan yang sangat concern terhadap perkembangan dan fungsi masjid, Iqbal Parewangi, bahwa ada sebuah peneilitian abad 20, menemukan 2 buah vartikel, yang pernah bersatu, tidak akan pernah berpisah, walaupun berbeda di galaxy yang berbeda, maka sejatilah begitulah mestinya elit-elit umat Islam pengelola masjid, senantiasa kuat dan tidak terpecah-belah, agar potensi masjid yang mayoritas menjadi bahwa rebutan minoritas. Kesamaan faham pada Tingkat elit umat, mestinya itu juga yang terjadi di akar rumput, sehingga sangat dibutuhkan sistim manajerial yang kuat.

Ke depan semakin penting dilakukan program kemitraan masjid, yakni masjid yang sudah makmur dan maju pengelolaanya dapat membina masjid tetangganya yang belum maju menejmennya, hal ini ditegaskan oleh Sekjen DPP IMMIM, Prof. Muh. Shuhufi Abdullah.
Diskusi yang dipandu oleh Prof.Arifuddin Ahmad, menyimpulkan bahwa relitas kesefahaman tokoh dan elit ormas perlu dilakukan secara kontinu dan bergilir, antara sesama ormas.
Diskusi ditutup dengan kesepakatan bahwa akan ada program tindak lanjut yakni “MoU” dan difasilitasi oleh Kantor Wilayah Kementerian Agama Sulawesi Selatan agar menjadi rujukan bagi umat. (hs)













