Merajut Asmara di Tanah Jawara
Oleh : Anwar sanusi
Sebuah bus jemputan rombongan peserta HPN Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) perlahan menepi dan memasuki hotel tempat aku ditampung sebelum melanjutkan perjalanan wisata dan agenda lainnya.
Sejenak aku melirik jam tangan yang selalu setia menemani.
” Sudah pukul 14.00,” lirihku sambil buru- buru mengambil kunci kamar dan bergegas menuju mushola di sudut belakang hotel.
Usai menyetor kewajiban, aku mencoba mencari sosok gadis putih bertubuh gempal dengan rambut terurai.
” Aku suka penampilannya,” bisiku sembari kembali sibuk mencari sosok gadis itu, tapi tidak kutemukan.
Rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Provinsi Banten diwarnai kegiatan Ekspedisi Budaya yang digelar Serikat Media Siber Indonesia (SMSI). Pada Jum’at, 06 Februari 2026, rombongan SMSI mengunjungi kawasan wisata Pantai Anyer dan Carita setelah sebelumnya melakukan kunjungan sejarah ke Keraton Surosowan di Banten Lama dan Museum Multatuli di Kabupaten Lebak.
Di kawasan Banten Lama, peserta ekspedisi meninjau situs Keraton Surosowan yang menjadi simbol kejayaan Kesultanan Banten. Kunjungan dilanjutkan ke Museum Multatuli di Lebak yang dikenal sebagai pusat edukasi sejarah dan literasi kritis.
Setelah menyusuri jejak sejarah, rombongan melanjutkan perjalanan menuju pendopo Bupati Pandeglang untuk mengisi kampung tengah dan kemudian menuju Pantai Anyer dan Carita. Hamparan pasir putih, debur ombak Selat Sunda, serta panorama alam yang terbuka menjadi daya tarik utama kawasan tersebut.
Sepanjang jalan kami sibuk mengawasi sosok gadis yang selalu mengusik pikiranku.
“Tidak cantik, tapi punya daya pikat tersendiri,” gumanku dalam hati.
Beberapa hari ini aku tidak pernah melewatkan detik demi detik bayangan wajahnya yang lugu. Aku tak sanggup melupakan awal pertemuan di Bandara Soekarno Hatta. Aku ingin kesan pertamaku berlanjut sampai akhir perjalan ini, tapi gadis yang kuharap dapat menyelami perasaanku, sedikitpun tak memperlihatkan kepeduliannya.
Bertegur sapa pun tidak, dan hanya terdiam dalam seribu bisu yang menyesakkan dada.
” Oh tuhan….kemana bayangan gadis itu kucari, sedangkan gelapnya malam di pantai Anyer dan gemuruh ombak semakin keras menghantam perasaanku. Ditambah lagi desiran angin menusuk ke dalam sukmaku,” kilahku sembari mencoba tenang dan tidak terlihat kikuh di depan teman- temanku.
Kunjungan ke destinasi wisata Anyer dan Carita juga menjadi momentum memperkenalkan potensi pariwisata Banten kepada jaringan media siber nasional.
Keindahan alam Anyer dan Carita adalah kekuatan Banten. Organisasi Media tempat aku bernaung memiliki peran strategis untuk mempromosikan potensi daerah secara profesional.
Esok harinya, rombongan Serikat Media Siber Indonesia bertolak ke Alun-alun Kota Cilegon. Di sana kami semua ikut menjadi saksi sejarah akan hadirnya sebuah monumen yang berdiri gagah.
Peradaban baru yang merupakan legacy dan menandai bukti keberadaan media siber di Indonesia berdiri kokoh di Kota Cilegon tempat awal ide pencetesun lahirnya Serikat Media Siber Indonesia ( SMSI) pada tanggal 27 April 2017.
Semua insan pemilik media siber se- Indonesia menyambut haru dan bahagia menyaksikan Wali Kota Cilegon, Wakil Wali Kota Ciligon, mantan Wali Kota Cilegon didampingi Ketua Umum Serikat Media Siber Indonesia meresmikan monumen tersebut.
Peristiwa ini menjadi sebuah jejak sejarah peradaban yang menandai lahirnya media siber yang saat ini menjadi terbesar di dunia.
Namun, rasa haru dan gelisah kembali menjajari langkahku. Aku mencoba melempar pandangan keseluruh sudut Alun-alun. Tapi gadis putih bertubuh gempal dan rambut terurai itu.lagi-lagi tak kutemukan rimbanya.
“Aku bertanya dalam hati, adakah dia tahu perasaanku ?. Apakah dia memiliki perasaan sama seperti yang kurasakan…ah mungkin inikah yang dinamakan cinta platonik seperti naskah cerita drama.percintaan yang pernah kupertontan ?,” keluhku.
Seribu pertanyaan saling bertaut di kepalaku. Rasanya aku tak sanggup berdiri dan berjalan mengikuti rombongan menuju bus. Agenda hari ini, selain peresmiaan monumen, tiga bus yang mengangkut rombongan akan mengunjungi Boarding school di sudut kampung Kota Cilegon.
Kesunyian di Boarding School ini lagi-lagi mendera batinku, semakin meletup-letup bak gemuru letusan gunung api. Aku tak dapat memejamkan mata, dan terus larut dalam bayangan gadis misterius itu.
Sabtu, 8 Februari 2026, kami kembali menyusuri jalan menuju Kota Serang menghadiri agenda terakhir perjalanan wisata rombongan Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) se- tanah air. Peletakan batu pertama pembangunan meseum media siber Indonesia di Kota Serang – Banten.
Sekitar kurang lebih pukul 16.00, acara peletakan batu pertama pembangunan mesium Serikat Media Siber Indonesia dimulai oleh Wakil Gubernur Banten didampingi pengurus SMSI.
Sorak sorai tepuk tangan saling bersambut menghiasi langit Serang. Semua orang larut dalam kegembiraan, tapi tidak pada aku, gadis itu tetap menjadi fokus perhatian dan banyak menyita waktu.
Perlahan matahari di Banten mulai redup. Kami pun semua kembali ketempat penginapan masing-masing. Aku terpisah dari gadis itu, tapi esok harinya di puncak Hari Pers Nasional yang di pusatkan di halaman kantor Gubernur Banten kami kembali bertetemu. Sejenak kami saling memandang. Hatiku terasa tercabik-cabik lantaran tak sanggup mengusai perasaanku.
Aku kehilangan arah dan tujuan. Padahal semalam aku sudah mempersiapkan kata-kata yang tepat untuk mengungkapkan perasaanku yang sebenarnya, bahwa aku menyukainya.
Tetiba, entah dari mana keberanian itu muncul dan tak mampu kubendung. Perlahan aku mendekat, mata kami saling menatap dan semakin dekat sehingga wajahku hampir saja menyentuh wajahnya.
Matanya menatapku tajam dan sedikitpun tidak berkedip. Aku semakin tak sanggup mengusai diri dan dengan spontan wajahku sudah menepel di wajahnya. Gadis itu pun menyambutku, merebahkan wajahnya dalam dekapanku. Suara nafasnya saling memburu, aku pun semakin merekatkan dekapan dan tak perduli dengan keadaan sekitar. Semua mata yang ada di area itu tertuju kepadaku, hingga seorang teman sekamar menyadarkanku dari mimpi panjang di sebuah kamar penginapan.
SEKIAN













