Episode Akhir dari Robohnya Sebuah Keangkuhan
Oleh : Anwar Sanusi
Manusia yang kehilangan harga diri akan sulit bangkit dari krisis kepercayaan. Ia dapat terjatuh dan terpuruk ke dalam jurang kehidupan yang terjal, seolah kehilangan pegangan dan sandaran, kecuali penyesalan yang berkepanjangan.
Masa-masa kelam yang pernah dilalui menjadi pelajaran berharga bahwa kesombongan, merasa paling kuat, dan merasa paling hebat hanyalah beban pikiran serta menyesakkan dada. Semua itu pada akhirnya tidak memberi ketenangan, melainkan menjauhkan manusia dari kebijaksanaan.
Seseorang dihargai bukan karena kekuasaan, jabatan, kemampuan, atau kehebatannya, melainkan karena perilaku dan wataknya yang mampu menjadi teladan bagi orang lain. Ia hidup dalam kerukunan, menebarkan kedamaian, dan memiliki kepekaan sosial. Di mana pun ia berpijak, ia mampu menjunjung nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan.
Sering kali kita lupa bahwa segala yang melekat pada diri kita, jabatan, kekuasaan, harta, maupun pujian hanyalah ibarat debu yang menempel di tubuh. Suatu saat, semuanya akan lenyap tersapu oleh waktu.
Kita juga kerap mengabaikan kenyataan bahwa setiap benih yang ditanam akan tumbuh sesuai jenisnya. Benih kebaikan akan melahirkan ketenangan dan keberkahan, sedangkan benih keburukan pada akhirnya akan tumbuh menjadi belenggu yang mengikat diri sendiri.
Runtuhnya sebuah tembok kesombongan memberikan pelajaran terbaik untuk direnungi, bukan untuk disesali. Namun karena kurangnya kesadaran dan tingginya ego mengalahkan realitas. Akibatnya berujung rasa sakit yang sulit dipulihkan.
Disaat inilah perlunya membangun kesadaran dalam mengelola potensi diri. Menggeneralisasi setiap persoalan dalam bingkai kebersamaan dari pada melakukan tindakan yang kurang bijak.
Dibalik semua itu, diperlukan kesungguhan dan keteguhan hati dalam menerima sekaligus memaknai dinamika kehidupan yang sering kali tidak sesuai dengan keinginan kita. Pastinya, setiap masa punya orang dan setiap orang punya masa.
“Jangan pernah merasa kuat sebelum kita diuji menjadi lemah. Hargailah setiap perjuangan orang-orang yang turut menyertai kesuksesanmu, walaupun itu hanya sebutir keri gat sebab boleh jadi lelahnya adalah doa yang mampu menembus Arsy”.
Wassalam.













