Dari lidah hingga kehancuran: Mengapa Mulutmu menjadi Harimaumu
H.M.Ihsan Darwis
Dosen: Fuad IAIN Parepare
Pemerhati Masyarakat
Makassar, 30 Agustus 2025
Pernahkah anda mendengar ungkapan” Mulutmu Harimaumu”. Ungkapan ini telah
menjadi peribahasa yang popular di tengah masyarakat yang sedang tidak baik baik saja ,
betapa berbahanya kata-kata yang keluar dari mulut kita. Namun, apakah kita pernah
berfikir tentang bagaimana kata-kata dapat memiliki kekuatan sebesar itu, apalagi
meracuni diri sendiri.
Saya masih ingat ketika saya masih kecil, ibu saya sering mengatakan: Nak, berhati-hati
dengan kata-kata yang keluar dari mulutmu, karena lidah itu tidak bertulang dan
menjadi racun bagi dirimu sendiri. Lanjut Ibu saya mengatakan bahwa, kata-kata dapat
mengakibatkan kebencian, memicu konflik dan bahkan menghancurkan hubungan.
Saya tidak terlalu mengerti pada saat itu, tetapi sekarang saya menyadari betapa
bijaknya seorang ibu. Kata-kata dapat membangkitkan semangat, memotivasi, dan
menginspirasi orang lain. Sangat penting bagi kita untuk berhati-hati dengan kata-kata
yang keluar dari dari mulut kita sendiri, jangan sampai menjadi“Mulutmu menjadi
Harimaumu”.
Saya juga pernah membaca buku cerita yang dapat menginspirasi bagi kita semua, cerita
ini datang dari seorang pemuda bijak dan meminta nasihat tentang bagaimana cara
menghadapi kesulitan hidup. Orang bijak menjawab dengan kata-kata yang bijak dengan
penuh kasih,” kata-kata yang keluar dari mulutmu dapat membawah berkah atau
bencana, pilihlah kata-kata yang baik dan positif, karena kata-kata tersebut dapat
mempengaruhi hidupmu dengan orang lain.
Pemuda tersebut sangat terkesan dengan kata-kata bijak, dan memutuskan untuk
mengubah kebiasaannya berbicara, ia berusaha menggunakan kata-kata baik dan positif
dalam setiap kesempatan. Setelah beberapa waktu, pemuda tersebut menyadari bahwa,
hidupnya telah berubah secara signifikan.
Ia memiliki banyak teman dan orang-orang
lebih suka berbicara dengannya dan merasa lebih bahagia, aman, damai dan tentram
dalam hidupnya.
Dalam informasi terkini, kita telah menyaksikan bagaimana kata-kata dapat memicu konflik, memperburuk keadaan, dan bahkan memicu kekerasan baik dari luar maupun dari dalam.
Media sosial telah menjadi sarana yang efektif untuk menyebarkan informasi, tetapi juga dapat menjadi sarana untuk menyebarkan kebencian. Kita telah melihat bagaimana kata-kata yang kasar dan tidak sopan dapat memicu perdebatan yang tidak produktif, memperburuk hubungan antar masyarakat, dan bahkan memicu kekerasan.
Baru-baru ini, kita juga menyaksikan bagaimana oknum-oknum yang tidak
bertanggungjawab dan bahkan melarikan diri dari kenyataan dengan seenaknya
berbicara tentang kenaikan gaji mereka sendiri tanpa mempertimbangkan kondisi
masyarakat yang masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan dasar. Kata-kata mereka
yang tidak sensitif dan tidak menghargai kesulitan masyarakat membuat kita meragukan kemampuan mereka untuk benar-benar mewakili rakyat.
Rasa keangkuhan dan
kesombongan seperti ini sangat berbahaya bagi keharmonisan masyarakat. Ketika kata-kata yang keluar dari “Mulutmu menjadi Harimaumu” mereka tidak lagi mencerminkan
empati dan kepedulian terhadap masyarakat, maka kita perlu mempertanyakan
legitimasi mereka sebagai wakil rakyat.
Fenomena sosial yang terjadi saat ini
menunjukkan bahwa, masyarakat sudah tidak sabar dengan sikap elit politik yang tidak
peduli dengan kebutuhan rakyat. Banyak masyarakat yang merasa frustrasi dan marah
karena kebutuhan dasar mereka tidak terpenuhi, sementara elit politik sibuk dengan
kepentingan mereka sendiri.
Masyarakat yang marah dan frustrasi ini, berubah menjadi anarkis, jika tidak ada upaya untuk memahami dan mengatasi kebutuhan mereka. Oleh karena itu, sangat penting bagi kita untuk menjaga ucapan kita dan menggunakan kata-kata yang baik dan positif.
Dalam situasi dan kondisi masyarakat saat ini, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan
kata-kata. Kita perlu memahami bahwa kata-kata memiliki kekuatan yang besar untuk
mempengaruhi orang lain, dan kita perlu menggunakan kekuatan ini untuk membangun
kebaikan dan keharmonisan dalam masyarakat.
Dalam konteks ini, kita perlu mempromosikan budaya berbicara yang sopan, menghargai pendapat orang lain, dan tidak menyinggung perasaan orang lain. Dengan demikian, kita dapat menciptakan masyarakat yang lebih harmonis dan damai, dimana setiap orang dapat hidup dengan nyaman dan bahagia. Jadi, mari kita jaga ucapan kita, dan gunakan kata-kata kita untuk membangun kebaikan dan keharmonisan dalam masyarakat.
Kita tidak perlu meniru rasa keangkuhan dan ketidakpedulian terhadap oknum yang tidak bertanggungjawab, melainkan kita perlu menjadi contoh bagi mereka tentang bagaimana berbicara dengan
sopan dan hormat. Dengan cara ini, kita dapat membangun masyarakat yang lebih baik
dan lebih harmonis. Indonesia hebat, kita kuat karena kita bersatu dalam kebaikan.
Makassar, 30 Agustus 2025












