Dari Jalanan ke Gelar Doktor: Kafrawy Sukses Pertahankan Disertasi tentang Anak Jalanan di Makassar
Makassar, makassarpena.id — Kafrawy sukses meraih gelar doktor setelah berhasil mempertahankan disertasinya dalam Ujian Promosi Doktor Program Studi Dirasah Islamiyah Pascasarjana UIN Alauddin Makassar, Rabu (17/6/2026).
Disertasi yang diangkat berjudul “Tinjauan Filosofis Kebijakan Publik atas Relasi Fatwa MUI dan Kebijakan Pemerintah Kota Makassar dalam Penanganan Anak Jalanan, Gembel dan Pengemis.” Penelitian tersebut lahir dari perjalanan akademik dan kemanusiaan yang dijalani Kafrawy selama hampir satu tahun meneliti langsung kehidupan anak jalanan, gelandangan, dan pengemis di Kota Makassar.
Dalam penelitiannya, Kafrawy yang juga pengurus IPIM Sulsel, tidak hanya menelaah berbagai regulasi pemerintah dan fatwa keagamaan, tetapi juga turun langsung ke lapangan. Ia mengunjungi Rumah Perlindungan dan Trauma Center (RPTC), rumah singgah, hingga berbagai titik persimpangan jalan yang menjadi lokasi aktivitas anak jalanan dan pengemis.
Salah satu pengalaman yang paling membekas baginya terjadi saat pertama kali mengunjungi RPTC di kawasan Barombong. Di tempat itu ia bertemu seorang anak jalanan yang menceritakan kehidupan keluarganya yang retak, kemiskinan yang dihadapi, serta harapan sederhana untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.
“Sejak saat itu saya menyadari bahwa di balik istilah anak jalanan, gelandangan, dan pengemis, ada manusia yang memiliki cerita hidup dan perjuangan yang panjang. Mereka bukan sekadar objek kebijakan,” ujar Kafrawy usai ujian promosi.
Selama penelitian, ia mewawancarai berbagai pihak, mulai dari pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI), pemerintah daerah, petugas sosial, masyarakat, hingga anak-anak yang hidup di jalanan. Temuan penelitiannya menunjukkan bahwa persoalan anak jalanan, gelandangan, dan pengemis tidak dapat dipahami hanya sebagai masalah ketertiban kota, tetapi juga berkaitan dengan kemiskinan, pendidikan, keluarga, dan perlindungan sosial.
Menurut Kafrawy, Kota Makassar sesungguhnya telah memiliki berbagai instrumen kebijakan, baik dalam bentuk peraturan daerah maupun fatwa keagamaan. Namun efektivitas kebijakan tersebut masih memerlukan penguatan melalui pendekatan yang lebih humanis dan berorientasi pada pemulihan martabat manusia.
“Keberhasilan sebuah kebijakan bukan hanya diukur dari berkurangnya jumlah pengemis di jalan, tetapi juga dari berapa banyak anak yang bisa kembali bersekolah, memperoleh perlindungan, dan memiliki masa depan yang lebih baik,” katanya.
Keberhasilan mempertahankan disertasi ini menjadi puncak dari perjalanan akademik yang tidak mudah. Selama hampir setahun, Kafrawy menyusuri berbagai sudut Kota Makassar untuk memperoleh data yang komprehensif dan memahami langsung realitas kehidupan kelompok rentan tersebut.
Bagi Pimpinan Pondok Pesantren Ash-Shalihin Gowa ini, disertasi bukan sekadar syarat memperoleh gelar doktor, melainkan bentuk kepedulian terhadap mereka yang selama ini sering dipandang hanya sebagai bagian dari masalah sosial.
“Saya datang untuk meneliti anak jalanan. Tetapi saya pulang dengan satu pelajaran penting: tidak ada anak yang bercita-cita hidup di jalanan. Mereka hanya membutuhkan kesempatan untuk hidup lebih baik,” tutur Kafrawy yang mengasuh ratusan anak santri.
Melalui penelitian ini, Kafrawy berharap hubungan antara kebijakan pemerintah dan nilai-nilai keagamaan dapat semakin memperkuat upaya perlindungan terhadap anak jalanan, gelandangan, dan pengemis, sehingga pembangunan tidak hanya menghadirkan ketertiban, tetapi juga keadilan dan kemanusiaan.













