Berita

Ketua Fatayat NU Soroti Bias Gender, KPU Sulsel Berikan Penegasan Peningkatan Kapasitas Perempuan Politik

97
×

Ketua Fatayat NU Soroti Bias Gender, KPU Sulsel Berikan Penegasan Peningkatan Kapasitas Perempuan Politik

Sebarkan artikel ini

Ketua Fatayat NU Soroti Bias Gender, KPU Sulsel Berikan Penegasan Peningkatan Kapasitas Perempuan Politik

Makassar-makassarpena.id.  Kegiatan peningkatan kapasitas perempuan di lembaga politik yang digelar Badan Kesbangpol Kota Makassar hari ini menghadirkan diskusi intensif tentang tantangan kepemimpinan perempuan. Ketua PC Fatayat NU Kota Makassar, Nurul Husna Al Fayanah, membuka pembicaraan dengan pertanyaan kritis.

Menurutnya, kenapa keberanian pemudi sering dianggap pembangkangan, sementara keberanian pemuda dipuji sebagai kepemimpinan.

Nurul Husna menekankan, bahwa persoalan ini adalah bentuk bias sistemik dalam penilaian kepemimpinan.

“Ketika pemudi kritis, ia dianggap memberontak. Tapi ketika pemuda melakukan hal sama, itu disebut  visioner.  Ini bukti ruang politik kita masih dirancang dengan standar ganda,” urainya.

Resonansi kegelisahan ini langsung mendapat tanggapan dari Sri Wahyuningsih, Komisioner KPU Sulsel.

“Jangan pesimis. Perubahan memang membutuhkan waktu, tapi setiap langkah yang kita ambil, termasuk hadir di ruang-ruang seperti ini adalah bagian dari perjuangan memperluas ruang bagi kepemimpinan perempuan.

Pernyataan ini disambut tepuk tangan peserta, terutama dari 25 pengurus Fatayat NU yang hadir sebagai delegasi aktif.

Pembelajaran dari Praktisi, Ir. H. Andi Nurhidayah, (Mantan Anggota DPRD) membagikan pengalaman pahitnya.

Dulu katanya disebut emosional saat berdebat, padahal rekan laki-laki dengan gaya sama dianggap tegas. Butuh waktu lama untuk membuktikan bahwa kepemimpinan punya banyak wajah.

Sementara Amrun Mandasini (Kabid Politik Dalam Negeri) menyoroti perlunya perubahan regulasi.

“Kuota 30 persen perempuan di parlemen tidak cukup jika tidak dibarengi dengan lingkungan yang mendukung,” katanya.

Sementara komitmen nyata
Fatayat NU mengumumkan tiga langkah konkret yakni, aekolah jepemimpinan perempuan untuk melatih anggotanya menghadapi bias gender, forum Dialog dengan Parpol untuk mendorong rekrutmen yang adil, dan kolaborasi dengan KPU Sulsel memantau implementasi kebijakan afirmasi.

Dr. H. Fathur Rahim (Kepala Kesbangpol) menutup acara dengan janji, tahun depan  akan adakan pelatihan khusus untuk melawan stereotip, bukan hanya meningkatkan keterampilan teknis.

Di akhir dialog Nurul Husna menegaskan,  tidak mau lagi disebut cantik berpolitik. Kami ingin diakui sebagai pemimpin yang kompeten, titik.

Rilis ini menggambarkan gelora perjuangan perempuan muda Makassar dalam mendobrak tembok bias gender, dengan dukungan lintas generasi dan institusi. (takbir)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *