Demokrasi Tanpa Nalar adalah Retorika Bak Tong Kosong
Oleh: Anwar Sanusi
Demokrasi adalah sistem di mana kekuasaan tertinggi berada di tangan pemilih. Dalam demokrasi, pemilih memiliki hak untuk ikut menentukan keputusan organisasi melalui konferensi untuk memilih ketua.
Artinya, pemilih bebas menentukan pilihannya sesuai hati nurani, bebas tanpa tekanan, intimidasi, iming-iming dan intervensi, serta mendapatkan hak yang sama dengan seadil-adilnya.
Anggota suatu organisasi berhak berpendapat sebagaimana dijamin dalam Undang-Undang. Pendapat tanpa batas ruang dan waktu yang menganut persamaan hak bagi semua anggota tanpa kecuali.
Lalu bagaimana dengan konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan ?. Apakah prosesnya sudah berjalan secara demokratis ?.
Paradigma dan pola nalar yang terbangun justeru menyeret konferensi PWI Sulawesi Selatan jauh dari tujuan dan cita-cita luhur organisasi sebagaimana landasan dasarnya termaktub dalam kitab organisasi. ADRT adalah landasan dan intrumen penting dalam organisasi, tapi dikebiri untuk mendiskreditkan anggotanya.
Tatanan demokrasi dalam organ PWI memberikan ruang bagi siapa saja yang ingin menjadi calon ketua. Keluasan yang tidak mengikat tapi tidak berorientasi pada skill dan integritas sang calon. Akibatnya, muncul calon yang dipaksakan sebagai penerus pemilik tahta yang tidak kredibel. Tidak memiliki pengalamam organisasi yang panjang dan diperparah lagi belum pernah duduk dalam struktur inti.
Demokrasi dalam berorganisasi membutuhkan nalar, kebijaksanaan, dan tanggung jawab dalam menyampaikan pendapat serta mengambil keputusan. Dan celakanya, ketika nalar dikesampingkan, demokrasi berisiko berubah menjadi panggung retorika yang ramai namun miskin substansi.
Pepatah “bak tong kosong nyaring bunyinya” menggambarkan keadaan ketika seseorang atau kelompok lebih banyak berbicara daripada memberikan gagasan, solusi, dan argumentasi yang rasional. Dalam kehidupan berorganisasi, retorika tanpa nalar hanya akan melahirkan kegaduhan, memperlebar perpecahan, dan menjauhkan tujuan bersama.
Jika konferensi organisasi profesi ini dibangun dalam sebuah sistem yang tidak normatif, maka akan melahirkan ketua yang lemah, letih, lesu dan loyo. Butuh remote kontrol untuk menggerakan. Tidak mandiri dan jalan ditempat.
Prinsip organisasi adalah mengedepankan kompetensi, bukan impotensi. Kapasitas dan keterampilan seorang pemimpin sangat menentukan arah serta perputaran roda organisasi. Pemimpin yang memiliki visi jelas, kemampuan manajerial yang baik, dan integritas yang kuat akan mampu membawa organisasi tumbuh dan berkembang.
Sebaliknya, ketika organisasi dipimpin oleh sosok yang miskin gagasan dan tidak memiliki arah yang tegas, maka roda organisasi cenderung berjalan di tempat, bahkan berpotensi mengalami kemunduran.
Hari ini , Selasa, 2 Juni 2026, mengusung tema ” Pers Sehat Sulsel Maju”, sejarah akan mencatat bahwa Konferensi PWI Sulawesi Selatan digelar dalam situasi yang belum sepenuhnya kondusif. Berbagai dinamika dan persoalan organisasi masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan bersama. Namun di tengah kondisi tersebut, anggota PWI tetap menaruh harapan besar agar konferensi kali ini melahirkan seorang pemimpin yang kredibel, berintegritas, serta mampu menjadi pemersatu. Sosok yang tidak hanya mampu mengembalikan marwah organisasi, tetapi juga membawa PWI Sulawesi Selatan menjadi lebih kuat, profesional, dan bermartabat di masa mendatang.
Semoga.













