Menelisik Bayang-Bayang Calon Ketua PWI Sulsel
Makassar, makassarpena.id – Pemilihan Ketua PWI Provinsi Sulawesi Selatan masa bakti 2026–2031 bukan sekadar seremonial belaka. Konferensi Provinsi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Sulawesi Selatan yang akan dihelat Juni mendatang sangat menentukan arah dan masa depan organisasi.
PWI Sulsel membutuhkan nahkoda yang tangguh, kredibel, berintegritas, dan kompeten. Ketua tidak hanya hadir sebagai simbol kepemimpinan, tetapi juga harus memiliki kecakapan, kemampuan, serta keteladanan dalam menjaga marwah organisasi dan profesi kewartawanan.
“Di tengah berbagai dinamika yang terjadi, figur pemimpin yang dibutuhkan bukan sekadar populer atau lahir karena nepotisme, melainkan sosok yang mampu menyatukan seluruh elemen, menghadirkan kesejukan, dan membawa organisasi kembali fokus pada penguatan profesionalisme wartawan,” ujar Anwar Sanusi, dihadapan awak media.
Tantangan organisasi ke depan kata Anwar Sanusi tidak ringan. Mulai dari menjaga independensi pers, meningkatkan kualitas dan kompetensi anggota, dan yang paling penting memperkuat solidaritas internal, hingga membangun kepercayaan publik terhadap organisasi profesi wartawan.
” Jujur, sekarang PWI butuh sosok ketua seperti Dr. Suwardi Thahir, kita membutuhkan pemimpin yang matang, bijaksana, dan berani mengambil keputusan secara adil. Bukan Ketua boneka yang justeru akan menyeret organisasi terpuruk dalam masalah,” tegas Anwar.
Suwardi Thahir adalah refresentasi Ketua PWI Sulsel ke depan. Dibandingkan dengan calon lainnya, ia dianggap mampu menjadi pelindung bagi anggota, membuka ruang komunikasi yang sehat, serta menjadikan organisasi sebagai rumah bersama, bukan arena kepentingan kelompok tertentu.
“Jika terpilih, kepemimpinan Suwardi Thahir diharapkan mengedepankan etika, transparansi, dan musyawarah, juga tidak selalu menggiring masalah ke ranah hukum. Ini menjadi harapan besar para anggota,” tambahnya.
Momentum Konferprov ini sejatinya menjadi ruang evaluasi sekaligus titik awal kebangkitan organisasi. Bukan ajang pembegalan dan upaya menghambat colon. Karena itu, para pemilik suara hendaknya benar-benar menggunakan hak pilihnya secara objektif dan penuh tanggung jawab, dengan mengedepankan kepentingan organisasi di atas kepentingan pribadi maupun golongan.













