BPBD Pinrang Tetap Siaga, Pemetaan 12 Kecamatan Rawan Bencana DJF 2025
Selasa, makassarpena.id – Kalaksa BPBD Pinrang, Bapak Romi Manule, menyampaikan kesiapsiagaan instansinya dalam mengantisipasi potensi bencana di masa mendatang. Sulawesi Selatan dikenal sebagai daerah yang rawan bencana, terutama bencana hidrologi yang muncul setiap musim penghujan.
Hadir di Studio Pro 1 Makassar, Bapak Romi menyatakan, sampai saat ini masih tetap siaga. Menurutnya, seluruh BPBD di Sulawesi Selatan telah siap siaga sejak apel siaga pada tanggal 23 November yang lalu, yang dipimpin oleh Kalaksa BPBD Sulawesi Selatan Bapak Hamson Padolo dan diarahkan oleh Gubernur Sulawesi Selatan.
“Kita semua diminta menyiapkan diri untuk mengantisipasi cuaca dan potensi bencana hidrometeorologi di bulan Desember, Januari, dan Februari (DJF) sampai ke jajaran tingkat terbawah,” ujarnya.
BPBD Pinrang didukung oleh aparat TNI-Polri sebagai “sayap di lapangan” dengan koordinasi yang mencapai tingkat Bupati dan Forkopimda se-Kabupaten Pinrang. Untuk masa kesiapsiagaan ini, instansi tersebut mengerjakan tiga tindakan taktis, memastikan kesiapsiagaan jajaran dan aparat kolaborasi di tingkat kabupaten/kota, melakukan deteksi dan mitigasi cuaca ekstrem yang potensial muncul di musim DJF, serta mengaktifkan posko kesiapsiagaan, posko siaga darurat, dan posko mobile untuk monitoring dan patroli di wilayah rawan.
Setelah rapat mitigasi kesiapsiagaan tingkat Forkopimda dan OPD pada 3 Desember lalu, BPBD Pinrang telah memetakan 12 kecamatan yang rawan bencana hidrometeorologi, antara lain, longsor di Kecamatan Lembang dan Batu Lappa (sering terjadi setiap tahun), banjir dan banjir rob di Kecamatan Duampanua, Matiro Sompe, Matiro Bulu, Tiroang (daerah persawahan), Lanrisang (daerah pesisir), Patampanua (daerah persawahan), dan Kota Watang Sawitto, serta angin kencang di Kecamatan Cempa dan Paleteang.
Sampai saat ini, kondisi di Pinrang masih kondusif tanpa laporan potensi bencana yang signifikan. Namun, BPBD telah melakukan plotting tanda peringatan di wilayah rawan longsor dan memberikan sosialisasi kepada masyarakat. Salah satunya adalah di Desa Basiang yang berbatasan dengan Kabupaten Enrekang, di mana warga diminta waspada dan menghindari daerah berisiko ketika hujan intens.
Menurut informasi dari Unit Geologi Dinas Provinsi SDM Energi Sumber Daya Mineral, tanah di dataran tinggi Pinrang, khususnya Kecamatan Lembang yang berbatasan dengan Kabupaten Mamasa, Sulawesi Barat berupa tanah alusial (campuran tanah dan pasir) yang labil saat hujan intens.
Selain itu, perubahan lahan dan aktivitas manusia seperti pemanfaatan lahan untuk mata pencaharian juga menjadi faktor penyebab potensi longsor. BPBD Pinrang bersama dengan aparat kecamatan, Kapolsek, Danramil terus mengingatkan masyarakat untuk membatasi aktivitas yang berbahaya di wilayah rawan. (Yunus)












