Politik

Mau Kaya, Jangan Jadi Anggota Dewan tapi Jadi Pengusaha

29
×

Mau Kaya, Jangan Jadi Anggota Dewan tapi Jadi Pengusaha

Sebarkan artikel ini

Mau Kaya, Jangan Jadi Anggota Dewan tapi Jadi Pengusaha

Makassar, makassarpena.id – Para mahasiswa dari berbagai kampus universitas ternama di Kota Makassar, diantaranya UNHAS, UNM, UIN Alauddin dan UMI, melaksanakan PKL (Praktek Kerja Lapangan) di Kantor Sementara DPRD Kota Makassar, Jl. Hertasning.

Dalam kegiatan study mahasiswa di luar kampus tersebut, mereka menggelar dialog dengan Wakil Ketua DPRD Kota Makassar, Anwar Faruq di Ruang Banggar, Kamis, 12 Februari 2026.

Anwar Faruq langsung menghandle kesempatan awal dengan meminta seluruh peserta memperkenalkan diri. Setelah itu, ia menjelaskan tetang lembaganya bahwa ada yang disebut alat kelengkapan dewan (AKD) yang  terdiri dari komisi, badan, dan panitia khusus yang memiliki tugas dan fungsi masing-masing.

Legislator PKS tersebut menegaskan kepada para generasi intelektual itu bahwa jika ingin jadi orang kaya jangan jadi anggota dewan, tapi jadilah pengusaha. Karena anggota dewan, lanjut dia, pada hakekatanya bertugas melayani rakyat, makanya disebut wakil rakyat.

Namun usai acara tersebut Anwar Faruq yang juga  sebagai Ketua DPW PKS Provinsi Sulsel tetap melontarkan pandanganya terkait dialog antara mahasiswa dan anggota dewan, kepada awak media di ruang kerjanya.

Ia memandangnya sebagai bentuk sinergi idealis-pragmatis yang krusial untuk memperkuat demokrasi dan checks and balances. Diskusi tersebut bukan sekadar pertemuan formal, melainkan mekanisme penting untuk menyampaikan aspirasi langsung, menjaga transparansi, dan memastikan kebijakan berpihak pada rakyat.

“Harus memposisikan diskusi antara mahasiswa dan anggota dewan sebagai dialog transparan politik, dimana mahasiswa bertindak sebagai kontrol kritis yang cerdas, sementara anggota dewan wajib menerima dan menindaklanjuti aspirasi tersebut sebagai bentuk tanggung jawab publik”, ungkapnya.

Menurutnya, sinergi idealis-pragmatis merupakan pendekatan keseimbangan yang menggabungkan prinsip-prinsip tinggi yang disebut idealisme, dengan tindakan praktis yang berorientasi pada hasil atau pragmatisme.

Ia menambahkan bahwa sinergi tersebut memungkinkan seseorang atau organisasi untuk tetap memiliki visi jangka panjang yang mulia, namun tahu cara beradaptasi dan bertindak lentur dalam realitas yang kompleks.

“Intinya idealisme memberi arah dan tujuan akhir, sementara pragmatisme memberi jalan dan cara mencapainya secara efektif,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *