Manajemen PDAM Dinilai Amatir, Air Tidak Mengalir Tapi Tetap Bayar
Makassar, makassarpena.id, Jaman modern kini mempersembahkan teknologi canggih yang serba digital, tapi manajemen atau pengelolaan PDAM Kota Makassar justru dinilai amatir.
Penilaian tersebut cukup beralasan, karena jumlah sambungan pelanggan baru terus bertambah, namun tidak diimbangi dengan peningkatan kapasitas dan produksi air bersih secara signifikan. Karena itu sesuai fakta di lapangan, maka terjadi krisis air bersih di sejumlah wilayah di bagian Utara Kota Makassar.
Hal itu sangat relevan dengan penjelasan Iwan, Ketua RT 02, RW 03 dan Ratna Tina, isteri Ketua RT 11 RW 05 Kelurahan Kaluku bodoa, Kecamatan Tallo.
Menurut Iwan, pada umumnya air bersih PDAM Kota Makassar lancar mengalir ke rumah warga di wilayahnya sekitar tahun 2000-an. Seiring perjalanan waktu, lanjut dia, jumlah pelanggan PDAM semakin bertambah, maka mulai juga air PDAM secara perlahan-lahan tidak lancar.
Ia menegaskan bahwa berapa tahun terakhir pada musim kemarau seperti saat ini, air PDAM tidak mengalir ke sebagian besar rumah-rumah warga. Namun sesekali, tambah dia, ada bantuan air bersih dari PDAM dengan cara menginjeksi pipa induk untuk disalurkan ke rumah-rumah warga.
Namun demikian, ia menekankan bahwa warga memang mengalami beban ekonomi akibat air PDAM tidak mengalir karena mereka harus membeli minimal lima gerobak perhari dengan total harga Rp. 25.000.
“Jadi satu gerobak berisi 10 jerigen yang setiap jerigen berkapasitas 10 liter air dengan harga Rp 5.000,-,” ungkap Iwan ketika ditemui di rumahnya, Rabu, 5 Agustus 2025.
Paling ekstrim lagi krisis air bersih terjadi juga di wilayah RT 11, RW 05, Kelurahan Kaluku Bodoa. RT yang diketuai Colli Daeng Sitaba berpenduduk hampir seribu orang memang mulai sekitar 25 tahun lalu tepatnya tahun 2000 selalu mengalami krisis air bersih.
Ketika wartawan MP melanjutkan perjalanan hingga bertandang ke rumah Colli Daeng Sitaba ternyata yang bersangkutan tidak ada di rumah. Namun Ratna Tina, Nyonya Ketua RT tersebut dengan tegas mengatakan kalau dirinya bisa mewakili suaminya, dengan alasan masalah air bersih kayaknya ibu-ibu lebih merasakan dan paham ketimbang bapak-bapak.
Ratna Tina menceritakan kisah nyata terkait pemenuhan air PDAM di wilayah RT yang dipimpin suaminya. Dua peristiwa yang selalu terbenak dalam sanubarinya, yakni peristiwa tahun 2000 dan 2025, walaupun jarak waktu puluhan tahun tapi dua peristiwa tersebut mirip alias serupa.
Ia mengisahkan, pada tahun 2000 ketika masih sama tinggal keluarga suaminya terjadi pemasangan baru kilometer PDAM, dirinya sangat senang karena air bersih lancar mengalir hanya saja pada bulan pertama, kedua, ketiga dan bulan berikutnya terhenti.
Begitu juga pada tahun 2025, alangkah senangnya karena Ratna mendapatkan pemasangan kilometer PDAM bahkan gratis lagi dari Appi, Wali Kota Makassar. Lagi-lagi awalnya senang dan bahagia tapi setelah tiga bulan kemudian akhirnya terulang lagi peristiwa yang sama sekitar 25 tahun yang lalu, air PDAM tidak mengalir juga.
“Masalahnya air PDAM tidak mengalir tapi kami tetap harus bayar uang beban bahkan tetap didenda jika pembayaran mengalami keterlambatan,” ungkap Ratna
Menurut Ratna, dirinya bersama warga akibat air PDAM tidak mengalir betul-betul menambah beban ekonomi setiap keluarga. Coba bayangkan, lanjut dia, kami pelanggan tetap harus bayar setiap bulan ditambah harus beli air bersih juga Rp.10.000 per gerobak yang isinya 10 jerigen masing-masing berkapasitas 20 liter.
Bahkan Ratna menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan demonstrasi, dan audience di Kantor PDAM Kota Makassar.
“Ada juga wargaku sebagai tokoh perempuan melaporkan kasus krisis air bersih ke Ombudsman tapi ya tetap begini air PDAM tidak mengalir,” ungkap Ratna.
Sementara dimintai tanggapan terkait krisis air bersih lewat WhatsApp, Hasan Boy Kasi Humas PDAM Kota Makassar hingga berita ini dipublikasikan tidak ada komentar. (dar)













